Puncak Menara
Siapa
yang tidak tahu dengan kota Paris dan menara besinya di Champ de Mars tepian
Sungai Seine di Paris? Tentu semua orang tahu dengan Tour Eiffel. Kota yang romantis yang ingin dikunjungi oleh semua
orang dari berbagai belahan penjuru dunia. Dan sebuah kota yang pernah menjadi
lautan asmara seorang wanita kelahiran Bandung yang berdarah campuran Arab-Jawa
yang memiliki rona paras luar biasa anggunya.
Syafiqa
Aqila adalah nama yang indah, dan seindah orang yang memiliki nama tersebut. Wanita
cerdas, yang terlahir dari keluarga yang sangat taat kepada agamanya. Segala
aturan dan nasehat dari orang tua yang selalu didengar dan dilakukan tanpa
bantahan membuat Afiqa mampu menyelesaikan kuliahnya di luar dugaan. Di usianya
yang masih sangat muda sudah mampu membuat orang tuanya bangga.
“Hitungan
bulan aku akan meninggalkan kota ini, meninggalkan umi dan abi. Itu semua akan
membuat ku memiliki kerinduan yang tak berujung. Tapi itu bukanlah alasan. Aku akan
tetap terbang ke kota penuh cinta untuk melanjutkan kuliah ku. Aku harap di
kota itu kelak, bayang dan sayang ku kepada umi dan abi terlintas selalu dan
begitu pula dengan rasa cinta ku kepada-Mu akan selalu terjaga pula dalam
ketaatan ku menghadap-Mu” begitulah ungkapan yang keluar ketika jari-jemari
yang halus menyentuh satu per satu huruf pada keyboard laptop miliknya.
Pagi
indah yang selalu disambut Afiqa dengan senyuman dan rasa syukur kepada-Nya. Karena
bagi Afiqa itu adalah jawaban dari do’annya.
“Afiqa,
bangun sayang. Nanti kamu buru-buru ke bandaranya” ujar seseorang dari luar
kamarnya.
Semua
barang telah Afiqa persiapkan selama tiga hari sebelumnya. Segala keperluannya
sudah siap dan tentunya tenaga juga dipersiapkan untuk menempuh perjalanan yang
cukup jauh itu.
“Iya
Afiqa udah bangun” jawab Afiqa dari dalam kamarnya.
Tampak
seorang gadis mungil menuruni tangga dengan pakaian sangat tertutup. Siapa lagi
kalau bukan Afiqa.
“Kamu
sudah siap?” tanya seorang lelaki yang sedang duduk di meja makan itu.
“Sudah
kok. Tapi Afiqa mau makan dulu ya. Kan ntar Afiqa bakalan kangen sama masakkan
umi, sama suasana sarapan kita ini. Emangnya umi dan abi tidak akan merasakan
rasa rindu nanti ketika Afiqa pergi?” tanya Afiqa panjang.
“Tentu
abi dan umi akan rindu sama kamu sayang. Toh anak abi dan umi hanya kamu saja.
Kamu tahu kenapa abi dan umi bersikap seperti ini?” ujar abi.
“Iya
Afiqa tahu kok. Abi dan umi hanya tidak mau sedih di depan Afiqa karena takut
Afiqa bimbang. Iya kan?” tanya Afiqa dengan senyum manjanya.
Senyum
lebarlah yang diberikan keduanya. Dan betapa gundahnya hati Afiqa saat itu.
Sama saja yang Afiqa lakukan. Tidak ingin membuat kedua orang tuanya bimbang.
“Umi
dan abi ikut mengantar Afiqa ke bandara?” tanya Afiqa.
“Sepertinya
tidak sayang. Umi dan Abi hari ini memiliki urusan penting di kantor. Tidak
apakan jika kami tidak ikut mengantar?”.
“Hmmm,
Afiqa maunya kalian ikut. Tapi, Afiqa bisa ngerti kalau umi dan abi sibuk”
dengan nada yang sedikit berat untuk menyampaikannya.
“Afiqa
pamit ya. Umi dan abi jaga diri di sini. Jangan lupa makan, jaga kesehatannya, jangan
lupa untuk rindu dengan Afiqa, dan doa-in Afiqa sehat terus dan bisa
menyelesaikannya dalam tempo yang cepat ya” ujar Afiqa yang sambil memeluk
keduanya.
“Iya
sayang. Kamu jangan khawatir dengan keadaan kami di sini. Yang perlu itu kamu.
Kamu yang harus jaga diri, di sana itu kamu di negeri orang. Yang abi dan umi
tahu anak abi sekarang tetap jadi anak abi dan jangan pernah kamu pulang
menjadi anak abi tapi bukan anak abi yang sekarang”.
Pelukkan
erat Afiqa membuat uminya tidak kuat menahan air mata yang ingin menetes sedari
tadi. Dengan lembut Afiqa melepas pelukkan itu dan mengusap air mata di pipi
uminya.
“Umi
kenapa menangis? Afiqa hanya pergi untuk beberapa tahun saja untuk melanjutkan kuliah
Afiqa. Afiqa nanti bakalan sering-sering untuk menelfon umi dan abi. Jadi umi
jangan sedih ya. Afiqa nggak mau ngelihat umi sedih apalagi menangis seperti
ini. Afiqa merasa berdosa karena membuat umi menangis” ujar Afiqa sedih.
Tidak
ada jawaban yang terdengar melainkan hanya senyum manis yang terlintas dari
bibir gadis yang membawanya ke dunia. Meraih dan mencium tangan keduanya lalu
beranjak dari teras rumah dengan langkah yang tenang.
Tangan
lembut membuka jendela beroda empat itu. Tampaklah jari-jemari yang indah menari menyampaikan kepergiannya. Perlahan
melaju dan semakin jauh sehingga rumah yang tadinya terlihat jelas, kini tudung
rumah itu pun telah lenyap entah kemana.
Dear
Diari
Hari
ini hari terakhir ku barada di sini dan hari ini hari terakhir ku menulis mu di
kota ini. Betapa bersyukurnya aku ketika bangun dihari ini disambut oleh senyum
mentari yang megah yang membuatku berterima kasih karena doa ku telah terkabulkan.
Aku bisa kembali membuka mata ini saja itu sudah sesuatu yang luar biasa
hebatnya bagi ku.
Terbang
ke negeri orang untuk pertama kalinya adalah bukan hal yang mudah bagiku sekali
pun mungkin itu menyenangkan bagi kebanyakkan orang.
Jauh
dari umi dan abi, jauh dari sanak keluarga dan itu artinya aku harus menjaga
diriku sendiri. Sukses menjaga rasa cinta kasih kepada-Nya berarti aku juga
sukses menjaga diriku ini.
Tanpa
Afiqa sadari kendaraan yang mengantarnya ke bandara telah sampai. Afiqa dan
supir pribadinya itu pun segera menurunkan barang-barang dan bergegas masuk.
“Bi,
aku berangkat dulu ya” ujar Afiqa.
“Titip
umi dan abi ya bi. Kalau ada apa-apa sesegera mungkin untuk menghubungi Afiqa”
pinta Afiqa lembut.
“Iya
mbak, ntar pasti bibi jagain. Mbak Afiqa hati-hati di sana. Sebab yang saya tahu
lebih enak hujan batu di negeri sendiri dari pada hujan emas di negeri orang.
Jaga diri ya mbak. Sebab saya takut ada apa-apa dengan keluarga di sini kalau
mbak kenapa-kenapa” ujar panjang dari seorang wanita.
Tangan
suci dan jari-jemari yang mungil terentang seperti bendera. Senyum lebar di
sudut bibir sangat terlihat manis dan menyejukkan kaum adam yang melihatnya.
Hari
itu hari yang tidak mengenal kata lelah dan tidak menemui titik neraka. Dengan
lepasnya dan lembutnya kaki putih berbalut stocking
dan beralaskan sepasang flat shoes
melangkah dengan ringannya.
“Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa,
Welcome Paris” teriak Afiqa.
“Akhirnya
aku sampai juga dan mampu menginjakkan kaki di Perancis” lanjut Afiqa dengan
nada senang.
Tiba-tiba
saja ada beberapa orang yang menghampirinya. Dan betapa terkejutnya Afiqa
ketika orang itu tahu namanya dan berbicara dengan bahasa Indonesia yang fasih.
Tidak pernah Afiqa duga, bahwa sesampainya dia di sana akan bertemu orang yang
sama seperti dirinya.
“Assalamu’alaikum”
sapa seorang wanita bercadar.
“Wa’alaikumsallam
umi” jawab Afiqa ramah.
Perbincangan
yang panjang dan di akhiri undangan makan malam adalah suatu kehormatan bagi
Afiqa.
“Assalamu’alaikum
abi,,”.
“Wa’alaikumsallam
Afiqa. Kamu sudah sampai nak?”.
“Alhamdulillah
sudah abi”.
“Afiqa
ini umi. Bagaimana? Suka dan betah di Paris?”.
“Insyaallah
Afiqa betah umi. Umi Afiqa mau cerita sama umi dan abi. Bisa di loudspeaker umi?”.
“Tentu
sayang, memangnya kamu mau cerita apa?”.
“Ternyata
di sini ada orang muslim dan orang Indonesia juga. Afiqa baru nyampe saja sudah
dapat undangan makan malam bersama keluarganya”.
Perjalanan
yang jauh dan sangat melelahkan. Tapi rasa itu hilang saat Afiqa di tawarkan
oleh seorang wanita tua yang ramah untuk berkunjung ke rumahnya.
“Sambutan
yang luar biasa. Dengan sopan dan ramah kedatangan ku di sambut. Dan ditawarkan
pula untuk tinggal di sana karena beliau tidak memiliki anak perempuan” ujar
Afiqa ketika dia ingin tidur.
Hari
pertama berkeliling di kota Paris. Berjalan menelusuri kota itu, dan tiba-tiba
saja mata Afiqa terhenti kepada sesuatu yang mampu membuat hatinya menikmati
musim salju.
“Akhirnya
aku mampu berdiri di bawah rangkaian besi yang tingginya kurang lebih 1.063
kaki dan beranak tanggakan 1.710 buah. Betapa istimewanya jika aku bisa menaiki
satu per satu anak tangga itu. Berada pada titik paling atas agar aku mampu
merasa lebih dekat dengan-Mu” ujar Afiqa dalam hatinya.
Perlahan
tapi pasti Afiqa mulai menaiki satu per satu anak tangga itu dengan kaki
mungilnya. Dengan rasa yang was-was Afiqa takut untuk melihat ke bawah.
Acrophobia yang dimiliki Afiqa kini mampu dikatakan sedikit berkurang.
Bagaimana tidak jika dia sudah berada di tengah-tengah menara itu.
Tanpa
ada kata menyerah Afiqa melewatinya. Dan cuaca yang sangat mendukung Afiqa
untuk tetap naik ke puncaknya.
“Assalamu’alaikum”.
Tiba-tiba
saja Afiqa tersontak kaget mendengar ucapan salam. Entah dari arah mana asalnya
dan entah siapa yang mengucapkannya. Karena Afiqa yang saat itu sangat fokus
dengan pegangannya sehingga sulit untuk membalikkan badannya ke arah sumber
sumber suara itu.
“Wa..wa’alaikumsallam”
dengan nada gugup Afiqa menjawab salam itu.
“Hati-hati
mbak kalau berada di atas sini. Di sini anginnya sangat terasa. Jika kita tidak
berpegang kuat dan berjalan hati-hati maka kita akan jatuh ke bawah bukan akan
tetap terbang mengikuti arah anginnya” ujar seseorang dari arah belakang Afiqa.
Mendengar
kembali seseorang mengajaknya berbahasa Indonesia yang fasih Afiqa merasa
tenang. Perlahan demi perlahan Afiqa membalikkan badannya. Karena angin yang
bertiup sangat kencang membuat tangan Afiqa tiba-tiba terlepas dari besi yang di
genggamnya.
“Awas
mbak…” teriak lelaki itu.
Dengan
gesitnya seperti sudah hafal dengan besi demi besi yang ada di puncak itu.
secepat mungkin menarik tangan Afiqa dan menahan Afiqa agar tidak terjatuh.
“Ma..maaf
mbak. Saya tidak bermaksud menyentuh mbak sembarangan. Hanya saja saya refleks
ketika melihat mbak yang hampir terjatuh”.
Hanya
bisa berdiam diri dan mematunglah yang Afiqa lakukan. Sekujur tubuhnya seketika
membeku seperti berada di suatu tempat dengan suhu yang minus derajatnya. Dan
pandangan kosong dari mata Afiqa ketika menatap lelaki itu.
“Oh,
I..iya terima kasih kamu sudah mau menyelamatkan saya tadi. Astagfirullah…”
ujar Afiqa yang gugup dengan pipi yang tiba-tiba di basahi oleh tetesan air.
Rasa
heran dengan hati yang penuh tanda tanya di dalam hati lelaki itu kenapa Afiqa
menangis. Suasana yang tiba-tiba menjadi hening membuat suasana mencekam pada
saat itu.
“Mbak
kalau saya boleh tahu nama mbak ini siapa? Saya Vadlan mbak”.
Pergi
tanpa jawaban. Itulah yang dilakukan Afiqa saat itu. Kali ini menuju kembali ke
lantai dasar dengan menggunakan lift.
“Betapa
indah dan sempurnanya ciptaan Mu ya allah. Mata itu mampu membuat hati ini
bergetar. Entah apa mungkin ini yang namanya cinta kepada sesama manusia?
Dosakah aku mempunyai rasa untuknya? Apakah dia juga mempunyai rasa yang sama?”
ujar Afiqa dalam hatinya.
Hari
yang melelahkan, menengangkan, dan mendebarkan. Jatuh hati kepada seseorang
yang baru untuk pertama kalinya adalah hal yang mustahil bagi Afiqa. Karena
Afiqa sendiri tidak pernah tahu rasa jatuh cinta itu seperti apa dan bagaimana.
Tapi yang Afiqa pernah dengar adalah, jatuh cinta apalagi pada cinta pertama
itu adalah indah rasanya.
Tepat
sepertiga malam Afiqa tiba-tiba terbangun. Entah apa yang membangunkannya.
Berjalan dengan langkah yang sadar atau tidak menuju ke kamar mandinnya untuk
berwudhu.
Di
dalam do’a biasanya kali ini Afiqa menyelipkan do’a lainnya. “Ya allah, rasa
indah apa yang hadir di dalam dada ini? Rasa yang memenuhi rongga dada ini.
Begitu sesak terasa. Ya allah jangan biarkan hati ini berpaling dari Mu, jangan
biarkan aku mendua dari Mu. Aku mohon pada Mu jaga rasa ku ini. Jauhkanlah aku
dari perbuatan dosa, dari rasa ini” ujar Afiqa di dalam do’anya.
Hari
demi hari Afiqa lewati di Paris. Tahun terakhir Afiqa berada di Paris. Karena
lagi dan lagi Afiqa mampu menyelesaikan kuliahnya dengan sangat cepat. Betapa
bangganya Afiqa dengan hasil yang dia dapat.
“Afiqa..”
teriak seseorang dari seberang sana.
Akan
menjadi hari yang bahagia apabila nama Afiqa tercantum di papan nama. Dan do’a
Afiqa terjawab. Senyum indah terlukis di sudut bibir Afiqa.
Dear
Diari
Hari
terakhir di kota ini. Pergi dengan selamat dan pulang dengan selamat itulah
yang tentunya diharapkan oleh umi dan abi. Tentu umi dan abi akan bahagia jika
mengetahui aku lulus kembali dengan waktu yang cepat. Dan tidak ingin
menyia-nyiakan hari ini. Awal kedatangan ku aku menginjakkan kaki untuk pertama
kalinya ke satu tempat, dan kenapa tidak untuk hari terakhir ku ini.
Setelah
selesai memberesi barangnya, Afiqa pun berniat ke puncak Eiffel untuk terakhir
kalinya. Dengan sesegera mungkin Afiqa menuju sebuah taksi.
Kali ini untuk menghemat waktu Afiqa
menggunakan lift untuk sampai di atas puncak itu. Karena akan membuang-buang
waktu jika dia menaikki tangga satu per satu.
“Ternyata
benar tentang mimpi tadi malam itu. Aku akan bertemu kamu lagi. Dan tentunya
aku ingin menyampaikan sesuatu” ujar lelaki yang dia temui beberapa tahun lalu
tepat di atas itu juga.
“Kamu
siapa? Sepertinya kita pernah bertemu” ujar Afiqa.
Berbincang
cukup panjang dengan kaki menjuntai ke arah bawah. Waktu yang sangat singkat
untuk mengenal.
“Afiqa,
aku boleh ngomong? Mungkin ini terlalu cepat untuk kamu. Tapi bagi aku ini udah
saatnya” ujar lelaki itu.
“Tentang
apa? Apa ada hubungannya dengan aku?” tanya Afiqa heran.
“Aku
ingin kita saling mengenal satu sama lain lebih jauh lagi. Aku mau kamu tetap
di sini bersama aku dan menemani aku di sini untuk selamanya” ujar Vadlan
tegas.
“Kamu
melamar aku? Maaf, kamu sepertinya berbicara pada orang yang salah. Seharusnya
kamu tidak berbicara ini kepada ku. Karena ada hal yang belum kamu tahu tentang
aku”.
“Aku
tidak menolak, atau pun mengiyakan perkataan kamu. Hanya saja aku butuh waktu
untuk itu. Karena aku takut salah melabuhkan perasaan ini. Aku takut melabuhkan
kepada orang yang tidak melabuhkan hidupnya dengan untuh untuk sang khaliq. Aku
hanya ingin melabuhkan kepada orang yang sama seperti ku yang melabuhkan cinta
kasih sayangnya kepada sang khaliq, yang mampu menjadi imam ku hingga di
akhirat kelak, dan mampu berkata bahwa dia mencintaku karena allah”.
Mendengar
perkataan itu Vadlan hanya mampu tersenyum kecil. Wanita impian para kaum adam
kini hadir dan duduk tepat di sampingnya. Akan tetapi apa boleh buat, Vadlan
akan tetap mengejar surganya itu.
“Baiklah,
aku bersedia melabuhkan cinta ku kepada seorang gadis yang sangat istiqomah
yang mampu melabuhkan hidup, cinta dan kasih sayangnya kepada sang khaliq. Dan
aku melabuhkannya karena aku mencintai dia karena allah” ujar Vadlan.

0 komentar: