17.37 Maulita Anggraeni Putri 0 Comments

Puncak Menara

            Siapa yang tidak tahu dengan kota Paris dan menara besinya di Champ de Mars tepian Sungai Seine di Paris? Tentu semua orang tahu dengan Tour Eiffel. Kota yang romantis yang ingin dikunjungi oleh semua orang dari berbagai belahan penjuru dunia. Dan sebuah kota yang pernah menjadi lautan asmara seorang wanita kelahiran Bandung yang berdarah campuran Arab-Jawa yang memiliki rona paras luar biasa anggunya.

            Syafiqa Aqila adalah nama yang indah, dan seindah orang yang memiliki nama tersebut. Wanita cerdas, yang terlahir dari keluarga yang sangat taat kepada agamanya. Segala aturan dan nasehat dari orang tua yang selalu didengar dan dilakukan tanpa bantahan membuat Afiqa mampu menyelesaikan kuliahnya di luar dugaan. Di usianya yang masih sangat muda sudah mampu membuat orang tuanya bangga.

            “Hitungan bulan aku akan meninggalkan kota ini, meninggalkan umi dan abi. Itu semua akan membuat ku memiliki kerinduan yang tak berujung. Tapi itu bukanlah alasan. Aku akan tetap terbang ke kota penuh cinta untuk melanjutkan kuliah ku. Aku harap di kota itu kelak, bayang dan sayang ku kepada umi dan abi terlintas selalu dan begitu pula dengan rasa cinta ku kepada-Mu akan selalu terjaga pula dalam ketaatan ku menghadap-Mu” begitulah ungkapan yang keluar ketika jari-jemari yang halus menyentuh satu per satu huruf pada keyboard laptop miliknya.

            Pagi indah yang selalu disambut Afiqa dengan senyuman dan rasa syukur kepada-Nya. Karena bagi Afiqa itu adalah jawaban dari do’annya.

            “Afiqa, bangun sayang. Nanti kamu buru-buru ke bandaranya” ujar seseorang dari luar kamarnya.

            Semua barang telah Afiqa persiapkan selama tiga hari sebelumnya. Segala keperluannya sudah siap dan tentunya tenaga juga dipersiapkan untuk menempuh perjalanan yang cukup jauh itu.

            “Iya Afiqa udah bangun” jawab Afiqa dari dalam kamarnya.

            Tampak seorang gadis mungil menuruni tangga dengan pakaian sangat tertutup. Siapa lagi kalau bukan Afiqa.

            “Kamu sudah siap?” tanya seorang lelaki yang sedang duduk di meja makan itu.
            “Sudah kok. Tapi Afiqa mau makan dulu ya. Kan ntar Afiqa bakalan kangen sama masakkan umi, sama suasana sarapan kita ini. Emangnya umi dan abi tidak akan merasakan rasa rindu nanti ketika Afiqa pergi?” tanya Afiqa panjang.
            “Tentu abi dan umi akan rindu sama kamu sayang. Toh anak abi dan umi hanya kamu saja. Kamu tahu kenapa abi dan umi bersikap seperti ini?” ujar abi.
            “Iya Afiqa tahu kok. Abi dan umi hanya tidak mau sedih di depan Afiqa karena takut Afiqa bimbang. Iya kan?” tanya Afiqa dengan senyum manjanya.

            Senyum lebarlah yang diberikan keduanya. Dan betapa gundahnya hati Afiqa saat itu. Sama saja yang Afiqa lakukan. Tidak ingin membuat kedua orang tuanya bimbang.

            “Umi dan abi ikut mengantar Afiqa ke bandara?” tanya Afiqa.
            “Sepertinya tidak sayang. Umi dan Abi hari ini memiliki urusan penting di kantor. Tidak apakan jika kami tidak ikut mengantar?”.
            “Hmmm, Afiqa maunya kalian ikut. Tapi, Afiqa bisa ngerti kalau umi dan abi sibuk” dengan nada yang sedikit berat untuk menyampaikannya.
            “Afiqa pamit ya. Umi dan abi jaga diri di sini. Jangan lupa makan, jaga kesehatannya, jangan lupa untuk rindu dengan Afiqa, dan doa-in Afiqa sehat terus dan bisa menyelesaikannya dalam tempo yang cepat ya” ujar Afiqa yang sambil memeluk keduanya.
            “Iya sayang. Kamu jangan khawatir dengan keadaan kami di sini. Yang perlu itu kamu. Kamu yang harus jaga diri, di sana itu kamu di negeri orang. Yang abi dan umi tahu anak abi sekarang tetap jadi anak abi dan jangan pernah kamu pulang menjadi anak abi tapi bukan anak abi yang sekarang”.

            Pelukkan erat Afiqa membuat uminya tidak kuat menahan air mata yang ingin menetes sedari tadi. Dengan lembut Afiqa melepas pelukkan itu dan mengusap air mata di pipi uminya.

            “Umi kenapa menangis? Afiqa hanya pergi untuk beberapa tahun saja untuk melanjutkan kuliah Afiqa. Afiqa nanti bakalan sering-sering untuk menelfon umi dan abi. Jadi umi jangan sedih ya. Afiqa nggak mau ngelihat umi sedih apalagi menangis seperti ini. Afiqa merasa berdosa karena membuat umi menangis” ujar Afiqa sedih.

            Tidak ada jawaban yang terdengar melainkan hanya senyum manis yang terlintas dari bibir gadis yang membawanya ke dunia. Meraih dan mencium tangan keduanya lalu beranjak dari teras rumah dengan langkah yang tenang.

            Tangan lembut membuka jendela beroda empat itu. Tampaklah jari-jemari yang indah  menari menyampaikan kepergiannya. Perlahan melaju dan semakin jauh sehingga rumah yang tadinya terlihat jelas, kini tudung rumah itu pun telah lenyap entah kemana.

            Dear Diari

            Hari ini hari terakhir ku barada di sini dan hari ini hari terakhir ku menulis mu di kota ini. Betapa bersyukurnya aku ketika bangun dihari ini disambut oleh senyum mentari yang megah yang membuatku berterima kasih karena doa ku telah terkabulkan. Aku bisa kembali membuka mata ini saja itu sudah sesuatu yang luar biasa hebatnya bagi ku.
            Terbang ke negeri orang untuk pertama kalinya adalah bukan hal yang mudah bagiku sekali pun mungkin itu menyenangkan bagi kebanyakkan orang.
            Jauh dari umi dan abi, jauh dari sanak keluarga dan itu artinya aku harus menjaga diriku sendiri. Sukses menjaga rasa cinta kasih kepada-Nya berarti aku juga sukses menjaga diriku ini.

            Tanpa Afiqa sadari kendaraan yang mengantarnya ke bandara telah sampai. Afiqa dan supir pribadinya itu pun segera menurunkan barang-barang dan bergegas masuk.

            “Bi, aku berangkat dulu ya” ujar Afiqa.
            “Titip umi dan abi ya bi. Kalau ada apa-apa sesegera mungkin untuk menghubungi Afiqa” pinta Afiqa lembut.
            “Iya mbak, ntar pasti bibi jagain. Mbak Afiqa hati-hati di sana. Sebab yang saya tahu lebih enak hujan batu di negeri sendiri dari pada hujan emas di negeri orang. Jaga diri ya mbak. Sebab saya takut ada apa-apa dengan keluarga di sini kalau mbak kenapa-kenapa” ujar panjang dari seorang wanita.

            Tangan suci dan jari-jemari yang mungil terentang seperti bendera. Senyum lebar di sudut bibir sangat terlihat manis dan menyejukkan kaum adam yang melihatnya.

            Hari itu hari yang tidak mengenal kata lelah dan tidak menemui titik neraka. Dengan lepasnya dan lembutnya kaki putih berbalut stocking dan beralaskan sepasang flat shoes melangkah dengan ringannya.
           
            “Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa, Welcome Paris” teriak Afiqa.
            “Akhirnya aku sampai juga dan mampu menginjakkan kaki di Perancis” lanjut Afiqa dengan nada senang.

            Tiba-tiba saja ada beberapa orang yang menghampirinya. Dan betapa terkejutnya Afiqa ketika orang itu tahu namanya dan berbicara dengan bahasa Indonesia yang fasih. Tidak pernah Afiqa duga, bahwa sesampainya dia di sana akan bertemu orang yang sama seperti dirinya.

            “Assalamu’alaikum” sapa seorang wanita bercadar.
            “Wa’alaikumsallam umi” jawab Afiqa ramah.

            Perbincangan yang panjang dan di akhiri undangan makan malam adalah suatu kehormatan bagi Afiqa.

            “Assalamu’alaikum abi,,”.
            “Wa’alaikumsallam Afiqa. Kamu sudah sampai nak?”.
            “Alhamdulillah sudah abi”.
            “Afiqa ini umi. Bagaimana? Suka dan betah di Paris?”.
            “Insyaallah Afiqa betah umi. Umi Afiqa mau cerita sama umi dan abi. Bisa di loudspeaker umi?”.
            “Tentu sayang, memangnya kamu mau cerita apa?”.
            “Ternyata di sini ada orang muslim dan orang Indonesia juga. Afiqa baru nyampe saja sudah dapat undangan makan malam bersama keluarganya”.
           
            Perjalanan yang jauh dan sangat melelahkan. Tapi rasa itu hilang saat Afiqa di tawarkan oleh seorang wanita tua yang ramah untuk berkunjung ke rumahnya.
            “Sambutan yang luar biasa. Dengan sopan dan ramah kedatangan ku di sambut. Dan ditawarkan pula untuk tinggal di sana karena beliau tidak memiliki anak perempuan” ujar Afiqa ketika dia ingin tidur.

            Hari pertama berkeliling di kota Paris. Berjalan menelusuri kota itu, dan tiba-tiba saja mata Afiqa terhenti kepada sesuatu yang mampu membuat hatinya menikmati musim salju.

            “Akhirnya aku mampu berdiri di bawah rangkaian besi yang tingginya kurang lebih 1.063 kaki dan beranak tanggakan 1.710 buah. Betapa istimewanya jika aku bisa menaiki satu per satu anak tangga itu. Berada pada titik paling atas agar aku mampu merasa lebih dekat dengan-Mu” ujar Afiqa dalam hatinya.

            Perlahan tapi pasti Afiqa mulai menaiki satu per satu anak tangga itu dengan kaki mungilnya. Dengan rasa yang was-was Afiqa takut untuk melihat ke bawah. Acrophobia yang dimiliki Afiqa kini mampu dikatakan sedikit berkurang. Bagaimana tidak jika dia sudah berada di tengah-tengah menara itu.

            Tanpa ada kata menyerah Afiqa melewatinya. Dan cuaca yang sangat mendukung Afiqa untuk tetap naik ke puncaknya.

            “Assalamu’alaikum”.

            Tiba-tiba saja Afiqa tersontak kaget mendengar ucapan salam. Entah dari arah mana asalnya dan entah siapa yang mengucapkannya. Karena Afiqa yang saat itu sangat fokus dengan pegangannya sehingga sulit untuk membalikkan badannya ke arah sumber sumber suara itu.

            “Wa..wa’alaikumsallam” dengan nada gugup Afiqa menjawab salam itu.
            “Hati-hati mbak kalau berada di atas sini. Di sini anginnya sangat terasa. Jika kita tidak berpegang kuat dan berjalan hati-hati maka kita akan jatuh ke bawah bukan akan tetap terbang mengikuti arah anginnya” ujar seseorang dari arah belakang Afiqa.

            Mendengar kembali seseorang mengajaknya berbahasa Indonesia yang fasih Afiqa merasa tenang. Perlahan demi perlahan Afiqa membalikkan badannya. Karena angin yang bertiup sangat kencang membuat tangan Afiqa tiba-tiba terlepas dari besi yang di genggamnya.

            “Awas mbak…” teriak lelaki itu.

            Dengan gesitnya seperti sudah hafal dengan besi demi besi yang ada di puncak itu. secepat mungkin menarik tangan Afiqa dan menahan Afiqa agar tidak terjatuh.

            “Ma..maaf mbak. Saya tidak bermaksud menyentuh mbak sembarangan. Hanya saja saya refleks ketika melihat mbak yang hampir terjatuh”.

            Hanya bisa berdiam diri dan mematunglah yang Afiqa lakukan. Sekujur tubuhnya seketika membeku seperti berada di suatu tempat dengan suhu yang minus derajatnya. Dan pandangan kosong dari mata Afiqa ketika menatap lelaki itu.

            “Oh, I..iya terima kasih kamu sudah mau menyelamatkan saya tadi. Astagfirullah…” ujar Afiqa yang gugup dengan pipi yang tiba-tiba di basahi oleh tetesan air.

            Rasa heran dengan hati yang penuh tanda tanya di dalam hati lelaki itu kenapa Afiqa menangis. Suasana yang tiba-tiba menjadi hening membuat suasana mencekam pada saat itu.

            “Mbak kalau saya boleh tahu nama mbak ini siapa? Saya Vadlan mbak”.

            Pergi tanpa jawaban. Itulah yang dilakukan Afiqa saat itu. Kali ini menuju kembali ke lantai dasar dengan menggunakan lift.

            “Betapa indah dan sempurnanya ciptaan Mu ya allah. Mata itu mampu membuat hati ini bergetar. Entah apa mungkin ini yang namanya cinta kepada sesama manusia? Dosakah aku mempunyai rasa untuknya? Apakah dia juga mempunyai rasa yang sama?” ujar Afiqa dalam hatinya.

            Hari yang melelahkan, menengangkan, dan mendebarkan. Jatuh hati kepada seseorang yang baru untuk pertama kalinya adalah hal yang mustahil bagi Afiqa. Karena Afiqa sendiri tidak pernah tahu rasa jatuh cinta itu seperti apa dan bagaimana. Tapi yang Afiqa pernah dengar adalah, jatuh cinta apalagi pada cinta pertama itu adalah indah rasanya.

            Tepat sepertiga malam Afiqa tiba-tiba terbangun. Entah apa yang membangunkannya. Berjalan dengan langkah yang sadar atau tidak menuju ke kamar mandinnya untuk berwudhu.

            Di dalam do’a biasanya kali ini Afiqa menyelipkan do’a lainnya. “Ya allah, rasa indah apa yang hadir di dalam dada ini? Rasa yang memenuhi rongga dada ini. Begitu sesak terasa. Ya allah jangan biarkan hati ini berpaling dari Mu, jangan biarkan aku mendua dari Mu. Aku mohon pada Mu jaga rasa ku ini. Jauhkanlah aku dari perbuatan dosa, dari rasa ini” ujar Afiqa di dalam do’anya.

            Hari demi hari Afiqa lewati di Paris. Tahun terakhir Afiqa berada di Paris. Karena lagi dan lagi Afiqa mampu menyelesaikan kuliahnya dengan sangat cepat. Betapa bangganya Afiqa dengan hasil yang dia dapat.

            “Afiqa..” teriak seseorang dari seberang sana.

            Akan menjadi hari yang bahagia apabila nama Afiqa tercantum di papan nama. Dan do’a Afiqa terjawab. Senyum indah terlukis di sudut bibir Afiqa.

            Dear Diari

            Hari terakhir di kota ini. Pergi dengan selamat dan pulang dengan selamat itulah yang tentunya diharapkan oleh umi dan abi. Tentu umi dan abi akan bahagia jika mengetahui aku lulus kembali dengan waktu yang cepat. Dan tidak ingin menyia-nyiakan hari ini. Awal kedatangan ku aku menginjakkan kaki untuk pertama kalinya ke satu tempat, dan kenapa tidak untuk hari terakhir ku ini.

            Setelah selesai memberesi barangnya, Afiqa pun berniat ke puncak Eiffel untuk terakhir kalinya. Dengan sesegera mungkin Afiqa menuju sebuah taksi.
Kali ini untuk menghemat waktu Afiqa menggunakan lift untuk sampai di atas puncak itu. Karena akan membuang-buang waktu jika dia menaikki tangga satu per satu.

            “Ternyata benar tentang mimpi tadi malam itu. Aku akan bertemu kamu lagi. Dan tentunya aku ingin menyampaikan sesuatu” ujar lelaki yang dia temui beberapa tahun lalu tepat di atas itu juga.
            “Kamu siapa? Sepertinya kita pernah bertemu” ujar Afiqa.

            Berbincang cukup panjang dengan kaki menjuntai ke arah bawah. Waktu yang sangat singkat untuk mengenal.

            “Afiqa, aku boleh ngomong? Mungkin ini terlalu cepat untuk kamu. Tapi bagi aku ini udah saatnya” ujar lelaki itu.
            “Tentang apa? Apa ada hubungannya dengan aku?” tanya Afiqa heran.
            “Aku ingin kita saling mengenal satu sama lain lebih jauh lagi. Aku mau kamu tetap di sini bersama aku dan menemani aku di sini untuk selamanya” ujar Vadlan tegas.
            “Kamu melamar aku? Maaf, kamu sepertinya berbicara pada orang yang salah. Seharusnya kamu tidak berbicara ini kepada ku. Karena ada hal yang belum kamu tahu tentang aku”.
            “Aku tidak menolak, atau pun mengiyakan perkataan kamu. Hanya saja aku butuh waktu untuk itu. Karena aku takut salah melabuhkan perasaan ini. Aku takut melabuhkan kepada orang yang tidak melabuhkan hidupnya dengan untuh untuk sang khaliq. Aku hanya ingin melabuhkan kepada orang yang sama seperti ku yang melabuhkan cinta kasih sayangnya kepada sang khaliq, yang mampu menjadi imam ku hingga di akhirat kelak, dan mampu berkata bahwa dia mencintaku karena allah”.

            Mendengar perkataan itu Vadlan hanya mampu tersenyum kecil. Wanita impian para kaum adam kini hadir dan duduk tepat di sampingnya. Akan tetapi apa boleh buat, Vadlan akan tetap mengejar surganya itu.


            “Baiklah, aku bersedia melabuhkan cinta ku kepada seorang gadis yang sangat istiqomah yang mampu melabuhkan hidup, cinta dan kasih sayangnya kepada sang khaliq. Dan aku melabuhkannya karena aku mencintai dia karena allah” ujar Vadlan.

0 komentar: