17.28 Maulita Anggraeni Putri 0 Comments

Satu Tatapan

            Pagi itu kenyenyakkan tidur Dimas dibangunkan oleh gaduhnya suara teriakkan yang bersumber dari luar rumahnya. Siapa lagi kalau bukan ketiga sahabatnya itu. Datang dan memanggil terus-menerus nama Dimas.

            “Ngapain sih pagi-pagi?!” sahut Dimas ketus.
            “Jalan yuk?”.
            “Tapi gue belum beres-beres nih?”.
            “Lo kira kita semua udah?”.

            Tanpa berfikir panjang Dimas segera keluar dan mengendarai sepeda gunungnya itu. Beranjak pergi meninggalkan halaman rumah dan berkeliling di kebun teh adalah kebiasaan Dimas bersama sahabatnya. Hari itu Dimas dan sahabatnya berkeinginan untuk ke sebuah danau yang tidak jauh letaknya dari kebun teh.

            Seorang gadis yang duduk di pinggir danau. Gadis yang memiliki rambut hitam pekat yang menjuntai di bawah bahu, dengan gaun selutut berwarna pink dan di tambah jaket rajutan berwarna putih menghiasi pandangan di pagi itu. Entah siapa namanya tidak di ketahui oleh Dimas dan sahabatnya. Dengan rajinnya mengikuti dia hingga ke rumahnya.

            “Cari siapa?” tanya seorang laki-laki berkumis tebal.
            “Nggak cari apa-apa om” ujar Dimas gugup.
            “Ya sudah pulang sana kalau tidak ada apa-apa”.

            Terbirit-birit Dimas dan sahabatnya berlari meninggalkan halaman rumah gadis tersebut dan pulang tanpa mendapatkan hasil.

            Tidak kunjung menyerah untuk mengetahui nama gadis itu. Dimas pun beranjak dari rumahnya dengan maksud mengunjungi rumah gadis tersebut.

            “Kamu ngapain ke sini malam-malam sendirian lagi”.
            “Lagi mutarin hutan. Kamu mau ikut?”.
            “Besok mungkin. Tapi kamu yang jemput aku ke sini”.
            “Tapi aku takut dengan papa kamu. Kita ketemu di danau kemarin aja gimana?”.
            “Hmmm, oke. Ya udah aku masuk dulu ya”.

            Hari berikutnya Dimas keluar kembali dengan gaya santainya yang selalu memakai  jaket dan celana pendek.

            Mengendarai satu sepeda berdua, memutari kebun teh dan memetiknya. Suasana yang sangat indah dan mampu membuat senyuman lepas di bibir mereka berdua. Melanjutkan kembali duduk di jembatan pinggiran danau dan saling mengenal adalah hal yang dilakukan Dimas.

            “Ahahahhaa, iya iya kamu benar. Orang tua itu memang suka mengambil keputusan tiba-tiba” ujar Dimas.
            “Sebentar-bentar Ica..Ica dan selalu Ica. Kalau kamu pasti Dimas..Dimas dan Dimas, iya kan?”.
            “Iya nih, kok kamu tahu aja? Peramal ya? Ahahaha, bercanda kok. Oh iya nih buat kamu” sambil mengulurkan sebuah syal rajutan berwarna cream.
“Makasih ya Mas” ujar Ica dengan senyum manisnya.
“Ca, lusa aku mau ke Jakarta nih”.
“Mau ngapain? Aku besok ke Jakartanya”.
“Mau pindah sekolah ke sana”.
“Emangnya kamu SMA di mana?” tanya Ica pelan.
“Aku tau mau sekolah di mana tapi aku nggak bisa ngasih tahu kamu. Dan kamu juga jangan kasih tahu ke aku ya kalau kamu sekolah di mana” ujar Dimas.
“Kenapa? Jakarta kan luas banget Mas. Gimana kita mau ketemu?” tanya Ica heran dengan wajah memelas.
“Ica, kalau kita jodoh kita pasti ketemu kok nantinya” jelas Dimas.

Pertemuan hari itu berlangsung hingga malam hari. Dimana di tempat itu di penuhi dengan kunang-kunang yang menerangi malam yang gelap itu.

Terlihat jelas kerumunan orang sedang berkumpul melihat sesuatu yang unik. Siapa yang tidak heboh jika ada yang sedang menari patah-patah atau breakdance di suatu sekolah. Di dalam kerumunan itulah Dimas dan Ica kembali di pertemukan.

“Kamu nyariin aku?” tanya Ica.
“Tadi itu pacar kamu?” berbalik bertanya.
“Kenapa? Kamu cemburu?” ledek Ica.
“Aku sama dia itu sahabatan dari kecil dan akhirnya papa mama kita maksain untuk aku dan Bryan pacaran” lanjut Ica.
“Ternyata di sini, di kota yang udah canggih masih berlaku ya zaman Siti Nurbaya?” ujar Dimas sedikit datar.
“Nggak mau mikirin itu ah. Oh iya kamu benar ya. Kalau jodoh itu pasti ketemu lagi”.
“Kamu masih ingat aja dengan kata-kata itu”.
“Ya walau hanya beberapa hari tapi rasanya lama banget”.

Hari pertama Dimas di dunia putih abu-abu barunya pada hari itu berakhir dan keduanya pun kembali ke rumah mereka masing-masing.

Hari kedua Dimas datang ke sekolah bersama sahabatnya sambil menegendarai sepeda sama seperti ketika masih di Bandung. Dan lagi-lagi Dimas di pertemuka dengan Ica. Akan tetapi Ica tidak sendiri, melainkan bersama Bryan kekasihnya.

“Pagi-pagi lo udah ngelamun. Ngelamunin apa sih Ca?” tanya Kayla yang merupakan salah seorang sahabat Ica di sekolahnya.
“Lagi ngelamunin dia. Dia sekolah di sini, dan dia ngelihat gue sama Bryan” ujar Ica yang masih menatap kaku.
“Siapa? Anak Bandung itu?”.
“Jodoh dong kalau gitu. Nah pasti lo lagi bingung dengan Bryan kan?” lanjut Kayla.

Waktu yang sama tapi dalam ruang yang berbeda dan suasana yang sama.

            “Mas, lo harus ingat kita itu ke sini buat sekolah. Kan lo sendiri yang bilang ke gue dulu: “Kalau cinta itu jangan di kejar biarin aja mengikuti alurnya kemana. Dan lo juga bilangkan kalau cinta itu sama seperti air. Air akan tetap mengalir  hingga ke ujungnya sekali pun air itu mengalir ke celah yang sangat kecil. Dan begitu juga cinta. Nah kalau dia memang jodoh lo kalian pasti bakalan nyatu di akhir nanti walaupun sekarang dan ke depannya cobaan kalian berat banget”. Lo ingat kan nasehat itu Mas?” tanya Arka.
            “Nah jadi lo nggak perlu berantem kayak tadi”.

            Hari itu adalah hari ulang tahun salah satu anak kelas tiga yang bernama Sisi, semua siswa SMA Negeri 3 di undang dalam party itu. Dan semua siswa bersiap-siap untuk menghadiri party itu.

            Cinta memang mampu mempertemukan dua hati yang bersatu dalam sebuah kegelapan atau dalam cahaya yang sempit.

            Ulang tahun Sisi di adakan di sebuah club malam. Suasana remang-remang yang di huni oleh keramaian orang dan riuhnya suara musik yang berdegup-degup kencang masih mampu mempertemukan Dimas dan Ica dari kejauhan.

            Pertemuan yang tidak berlangsung lama itu berakhir karena salah satu dari mereka pergi karena ada hal yang tidak enak dilihat.

            “Nyiiiiiiiiiiiiit….. gubrak!”.

            Tiba-tiba saja terdengar suara benturan yang sangat keras sekali dari arah depan. Tampak Dimas yang sesegera mungkin berlari untuk menghampiri suara benturan itu terjadi.

            Betapa shocknya Dimas ketika tiba di tempat suara benturan itu berasal.

            “Ica..” teriak Dimas histeris.
            “Tolong..tolong panggil ambulance” ujar Dimas panik.

            Malam yang kelabu untuk Dimas, Kayla, dan Bryan. Berjalan mondar-mandir di depan ruang UGD sambil menunggu kabar tentang Ica.

            “Kecelakaan itu berakibat fatal untuk putri ibu dan bapak. Akibat benturan yang sangat keras, saraf pada mata dan tulang belakangnya mengalami kerusakan” ujar dokter yang menangani Ica. Terngiang jelas kalimat itu di telinga Dimas dalam langkah kakinya menuju rumah.

            Hari demi hari berlalu dengan heningnya suasana. Ica yang dibawa oleh kedua orang tuanya ke luar negeri untuk mengalami pengobatan membuat Dimas, Kayla, dan Bryan merasa kehilangan sosok Ica.

Kehidupan di sekolah seakan mati. Tiada cerita dan kisah baru yang melintas di telinga Dimas tentang Ica. Bayang Ica selalu saja hadir mengisi lamunan Dimas. Berbulan-bulan berjalan dengan rapuhnya harapan tentang Ica.

“Eh non Ayu, udah pulang non?” tanya seorang wanita yang bertugas di rumahnya.
“Ica mana?” tanya seorang gadis yang tidak sebaya dengan Ica.
“Ada di atas non, mau saya panggilkan?”.
“Nggak usah bi, makasih”.

Berjalan menelusuri lorong rumah dan menuju ke kamar Ica. Apa boleh di kata air mata sulit untuk ditahan dan keluar dengan sendirinya.

Duduk tepat di sebelah Ica dan merangkul Ica dengan erat.

“Dek, kakak udah pulang. Maafin kakak ya. Kakak baru tahu kabar tentang kamu. Kakak pergi dari rumah karena kakak nggak betah dengan suasana rumah yang selalu berubah-ubah”.

Sesampainya Dimas di sekolah tampak mobil Bryan lewat dan berhenti di depan sekolah. Berharap gadis mungil keluar dari dalam mobil itu.

Ica sangat sulit menerima keadaanya yang serba kekurangan sekarang. Maka dari itu Ica memutuskan untuk pergi menjauh dan hidup sendiri dari siapa pun yang dia kenal.

“Kenapa harus lari kalau nantinya kita bakal di pertemukan kembali. Percuma kamu lari karena kita itu jodoh. Kamu jangan pernah takut aku berhenti mencintai kamu, karena kamu saja bisa menerima kekurangan ku kenapa aku tidak bisa menerima kekurangan mu. Ica kamu tahu kenapa aku di sini sekarang? Karena aku ingin ada di samping kamu sampai kamu sembuh”.

Dimas dan Kayla adalah orang terbaik dalam hidup Ica yang mampu memberikan cahayanya kembali. Yang mampu memberi warna dalam hidup Ica.

Hari-hari Ica kembali seperti awal. Melewati hari bersama orang-orang yang tulus sayang kepadanya. Kebun teh dan danau menjadi tempat Ica, Dimas, dan Kayla bercanda tawa.

“Mas? Lo sakit apa?” tanya Kayla.
“Kenapa lo diem?” lanjut Kayla.
“Lo tahu nggak, kalau ada apa-apa sama lo itu artinya bakalan ada apa-apa juga sama Ica”.
“Nggak kok. Nggak bakalan ada apa-apa sama Ica kalau lonya nggak cerita sama dia”.
“Memangnya lo sakit apa Mas?” tanya Kayla lagi.
“Gue kanker hati Kay. Tapi gue minta sama lo agar nggak usah bilang ini sama Ica. Gue nggak mau ada apa-apa sama Ica. Lo ngertikan kenapa gue ngelakuin ini?”.
“Udah seberapa jauh sakit lo?”.
“Gue nggak pernah ambil tahu tentang sakit gue ini. Gue nggak mau ngerasain sakit gue ini karena gue mau ngersain hidup normal seperti sahabat-sahabat gue yang lainnya”.
“Hmmm, gue udah nggak tahu lagi mau ngomong apa sama lo”.

Hidup dalam kegelapan dan memiliki keluarga yang tidak utuh itulah yang Ica rasakan saat ini. Keadaan yang sangat berat untuk Ica lewati.

Di jembatan pinggiran danau Dimas dan Ica berbaring bersama sambil menjuntaikan kaki mereka ke dalam air. Bersenda gurau mengingat kembali ingatan pertama mereka masing-masing ketika bertemu.

“Ca kamu mau tahu nggak?” tanya Dimas.
“Tahu apa Mas?”.
“Jodoh itu bukan hanya di dunia tapi di akhirat juga”.
“Iya tahu kok. Kenapa memangnya?”.
“Kalau kita nggak jodoh di dunia gimana Ca?”.
“Kenapa bicara yang nggak-nggak sih?”.
“Nggak kok, nggak ada maksud apa-apa Ca”.
“Ca, aku boleh ngomong sesuatu?”.
“Hmm iya”.
“Aku cuman mau bilang kalau aku itu sayang banget sama kamu. Aku takut kalau harus pisah dan kehilangan kamu Ca. Kamu itu gadis kedua yang istimewa letaknya di hati aku setelah ibu”.
“Aku maunya tempat ini mampu jadi tempat yang bersejarah bagi kita nanti Ca”.
“Oh iya Ca aku punya satu permintaan buat kamu”.
“Apa itu Mas?”.
“Apa pun yang terjadi dengan kita, kita harus tetap tegar, tenang, dan sabar menghadapinya. Jangan pernah ada air mata lagi yang keluar. Karena Kesedihan itu hanya berlangsung sementara, nggak abadi seperti kebahagiaan kita nanti”.
“Mas, makasih ya. Makasih banget udah mau menerima, mencintai, dan menyayangi Ica sepenuh hati tanpa ada rasa iba sedikit pun. Ica merasa menjadi wanita yang paling beruntung bisa bertemu dengan lelaki yang bisa menjaga Ica, membuat Ica bisa melihat melalui rasa yang berbagai warnanya. Yang kamu sendiri memberinya. Aku juga sayang sama kamu Mas”.

Hari pun petang. Tiada yang tahu kalau hari itu akan jadi hari terakhir untuk Dimas dan Ica. Tanpa Ica sadari Dimas telah beranjak pergi dari kehidupannya untuk selamanya dan tidak akan pernah kembali lagi.


To : Reinissa Zhafira


Happy Birthday yang ke 17th ya Ca. Maaf aku nggak bisa ada di samping kamu ketika kamu membuka mata kamu kembali. Maaf aku nggak bisa ngasih apa-apa untuk kamu. Aku hanya bisa memberi kedua mataku itu untuk kamu.
Kamu akan bisa melihat kenangan kita yang lalu dalam tidurmu dan setiap saat kamu memejamkan mata.
Ica, kamu itu adalah alasan ku untuk tersenyum di balik kesakitan ku, dan kamu adalah alasan ku untuk bertahan hidup. Tapi apa boleh buat. Karena tuhan ingin kamu dan aku itu berjodoh di atas sana.
Aku titip kedua mata ku kepadamu agar aku selalu bisa melihat mu ketika kau tersenyum, melihat mu menjadi ibu, dan melihat mu di hari tua nanti.
Dan kamu harus ingat, apa pun yang terjadi dengan kita nanti kita harus tetap tegar, tenang, dan sabar menghadapinya. Jangan pernah ada air mata lagi yang keluar. Karena Kesedihan itu hanya berlangsung sementara, nggak akan abadi seperti kebahagiaan kita nanti. Tepatnya kebahagiaan kita di surga nanti.
Sampai ketemu di surga ya bidadari kecilku, I love you so much Reinissa Zhafira……..


Salam sayang             


Dimas Praditya Maedhika

0 komentar: