Surat untuk Stiletto Book


Dear
Stiletto Book

Salam kenal dari Kota Khatulistiwa. Dengan rasa hormat dan bangga yang disampaikan oleh enggang tentunya untuk Stiletto Book. Semoga melalui event ini, yang tadinya hanya perkenalan sebatas penyelenggara dan peserta kini bisa menjadi perkenalan antara penerbit dan penulis dan semoga ke depannya bisa terjalin suatu kerja sama yang baik, dengan karya-karya yang luar biasa. Amiin.           
Hai Stiletto Book! Perkenalkan nama ku Maulita Anggraeni Putri, tapi biar lebih dekat panggil saja Maulita. Perkenalan ku dari kota Khatulistiwa ini dengan maksud bertegur sapa dan saling mengenal. By the way ada yang lagi happy nih karena nambah umur, hehehehe. Selamat Ulang Tahun yang ke-empat untuk Stiletto Book. Semoga di masa yang akan datang Stiletto Book akan tetap hadir sebagai suatu media yang di gunakan para penulis untuk mencurahkan segala inspirasinya yang berupa ide-ide yang sangat inspiratif dan mampu memotivasi para pembaca pastinya.
Nih ya, dari sekian banyak buku Stiletto Book yang terbit ada tiga buku dari Stiletto Book yang ingin sekali aku membacanya sampai selesai. Sepertinya seru dan menarik pula. Ketiga buku itu adalah



Distance, Remember Paris, This Guy Is Mine. Melalui cover dan sinopsisnya aku kira itu belum cukup jika belum membaca isinya. Seperti menikmati iklan yang ada di tayangan televisi biasanya, hanya sepintas saja, tidak begitu jelas. Mungkin hanya dengan kita terjun langsung ke lapangan akan tahu isinya. Barang kali dengan membaca isinya apa yang dirasakan Kirana di Jenewa-Swiss? Bagaimana pertemuan Kirana dengan Emmanuel? Dan juga apakah yang terjadi sebenarnya antara Bastian, Raisa, dan Sammy? Bisa aku ketahui dan mungkin aku rasakan.

            Aku sangat tertarik membaca novel teenlit. Bukan hanya karena mengisahkan tentang asmara, persahabatan, keluarga, dan sebagainya. Tapi juga saat penulis menggambarkan tokoh dan karakter tokoh tersebut, begitu pula dengan setiap konflik yang terjadi. Apa lagi jikalau teenlit itu memiliki setting tempatnya di sebuah negara yang memiliki sisi wisata yang luar biasa dan membuat setting tempat yang hanya ada di dalam khayalan imajinasi penulis. Karena selain indah, menakjubkan, dan sangat susah untuk di amati secara nyata. Cerita yang memiliki setting tempat seperti itulah yang bisa membantu pembaca mengenal dunia. Karena belum tentu semua pembaca bisa berkunjung ke tempat tersebut.
            Sepertinya Stiletto Book memiliki penulis-penulis yang luar biasa yang tentunya mempunyai imajinasi yang tinggi dan kaya akan inspirasi. Walau raganya di Indonesia tapi fikiran dan nalurinya berada di berbagai belahan dunia. Tidak hanya bisa menulis cerita-cerita teenlit, horror, dan lain sebagainya yang penuh karangan. Tapi juga mampu hadir dengan lembaran yang penuh informasi.
            Buat Stiletto Book baik ini sebelum atau sesudahnya aku cuman mau mengucapkan terima kasih banyak buat event ini. Terima kasih sudah mau menyelenggrakan event seperti ini. Semoga apa yang telah dikirim semua peserta baik itu saran, kritikkan, kesan yang kurang baik dapat diterima dan semoga event ini akan ada kembali di setiap tahunnya atau kapan saja. Karena semakin banyak event, akan semakin banyak pula masyarakat Indonesia yang mungkin nantinya akan semakin mencintai dunia sastra Indonesia, tentunya dalam dunia menulis. Sekian surat dari ku dan kota ku ini.

Salam

Maulita Anggraeni Putri




Nama Lengkap: Maulita Anggraeni Putri
Instagram: maulitaputri28
Email: maulitanggraeniputri@yahoo.co.id


Dunia Baru

Hari ini hari yang ku namai dengan sebutan perang dunia ke tiga. Cuaca yang dingin membangunkan ku dengan caranya yang sedikit demi sedikit menyelimuti tubuh ku dengan hawa dinginya. Akan tetapi rasa dingin itu sesegera mungkin memudar saat aku kembali teringat akan apa yang akan ku hadapi pada hari ini. Perang dunia ke tiga antara aku dan naskah soal, karena hari ini adalah hari dimana aku akan berjuang untuk kelulusan ku.

            Tangan yang lembut ini dengan perlahan membuka sesuatu yang membalut tubuh ku dari hawa dingin. Kaki indah dengan warna kuning langsat yang pucat kini tengah menjuntai di atas ubin berwarna putih. Kaget ku ketika menyentuh ubin kamar ku. Hawa dinginnya seakan menyelimuti ku kembali. Ku gapai saja alas kaki ku untuk melindunginya. Dengan gesit aku membuka kain yang berjuntai di muka gerbang udara, di iringi pula dengan aku yang membuka pintu kayu yang kecil. Mungkin cara ini adalah cara yang sangat ajaib. Seketika mampu memudarkan hawa dingin yang sedari tadi membungkus erat tubuh ku ini.

            Tentu pagi yang sangat indah bagi ku. Bagaimana tidak? Hari ini adalah hari yang telah ku tunggu-tunggu dalam jangka waktu yang cukup bagi ku. Setelah ujian ini aku hanya tinggal menunggu hasilnya saja. Kalau nanti aku dinyatakan lulus, itu artinya aku akan segera menjemput seragam putih abu-abu ku.

            Jarum jam tangan ku kini telah menunjukkan pukul 06:15. Bergegas aku keluar dari daerah perlindungan ku dengan perlengkapan yang berbeda dari biasanya. Menuruni tangga dengan gerak yang lincah.

            “Gimana? Udah siap kak buat ujiannya hari ini?” tanya mama padaku. Karena aku anak pertama terkadang mama dan papa memanggil ku dengan sebutan kakak.
            “Sudah kok ma. Tapi geregetan rasanya, takut aja soalnya beda ma” jawab ku lirih.
            “Lho, kenapa jadi minder gitu? Bukannya kamu sudah mempersiapkannya selama dua tahun enam bulan lebihkan?” ujar mama yang sambil memberi ku sarapan di pagi itu..
            “Iya sih ma, tapi Bella takut ma kalau gagal”.
            “Kamu ini gimana sih, senjata yang kamu rakit bertahun-tahun mana? Kenapa belum perang saja kamu sudah menyerah. Kalau semua tentara perang seperti kamu rugi mereka” ujar mama bijak.
            “Hmmmm, iya deh ma Bella akan terus optimis dan berusaha kok buat hari ini dan tiga hari kedepannya” sahut ku dengan menyantap roti bikinan mama.

            Pagi itu mama mengantar yang mengantar ku karena papa sedang piket di kantornya. Tanpa banyak berbicara pada mama saat dalam perjalanan, dan mama pun tahu aku diam  karena aku sedang sibuk membaca buku dan materi-materi ujian yang di berikan guru ku.

            Sesampainya aku di depan gerbang sekolah ku, aku pun turun dan menyalami mama dan meminta restu serta doa agar aku dapat dengan lancar menjawab lembar soal ku nanti. Begitulah yang ku lakukan selama empat hari aku menjalani ujian nasional ku.

            “teeeeeeeeeeeeeeeeeeeeetttt”.

            Terdengar jelas suara bel pulang pada hari terakhir berbunyi keras. Dengan menarik nafas yang panjang dan menghembuskannya sangat lega terasa, semua beban berat ku selama ini tersingkirkan semua. Tiba-tiba saja terdengar suara sebuah pengeras suara yang memberitahukan bahwa semua siswa dan siswi diharapkan datang kembali ke sekolah setelah satu bulan dari sekarang.

            Hari-hari kosong yang panjang ku isi dengan kegiatan yang positif. Hobi ku yang menulis membuat rasa jenuh ku hilang. Pada hari terakhir sebelum hari yang di tentukan aku selalu saja berdoa agar apa yang aku kerjakan tidak berakhir sia-sia.

            Tepat tanggal satu pada bulan Juni aku kembali ke sekolah ku itu beserta dengan para sahabat ku. Telah dikatakan pada hari terakhir ujian bahwa hasil kelulusan akan tertempel di mading utama yang terletak di samping ruang guru. Mengingat itu semua, aku dan sahabat ku berlari dengan hati yang berdebar sedari tadi. Sesampainya aku pada mading itu, dengan sorot mata yang tajam ku pandangi secarik kertas yang di tempel panjang.

            Aku semakin bimbang ketika para sahabat ku telah bersorak dengan kata lulus. Sementara aku belum menemui namaku tertera di mading itu. Rasa pupus sedikit memenuhi dada ku ini. Apa jadiya jika aku tidak lulus. Saat aku tengah mencari dari bawah ke atas, tiba-tiba saja mata ku tersorot tajam dan menyipit pada kertas yang di tempel pada pojok kiri atas.

            Betapa bodohnya aku pada saat itu ketika mencari data nama ku dari kelas bawah. Tersontak kaget aku ketika melihat secarik kertas itu. Namaku berada pada peringkat sembilan jika secara umum dan peringkat dua di kelas ku. Aku dinyatakan lulus pada ujian. Sangat bahagia aku pada hari itu. Akan tetapi rasa itu kembali pudar saat aku mengingat kembali bahwa aku akan pergi meninggalkan mereka. Setelah ini aku akan lanjut bersekolah di luar pulau. Aku akan mengikuti papa pindah tugas.

            Saat acara perpisahan sekolah ku yang di adakan di sebuah gedung berlangsung aku hanya bisa datang untuk menemani mama dan papa yang memberi bingkisan kepada kepala sekolah ku dan begitu juga dengan aku yang memberi kenang-kenangan kepada sahabat ku.

            “Bella kamu beneran lanjut SMA di luar? Nggak di sini?” tanya Mita.
            “Sebenarnya aku nggak mau, tapi apa boleh buat semuanya ikut pindah. Aku takut jika hanya hidup sendiri di sini”.
            “Memangnya Bella mau lanjut kemana?” tanya Kayla.
            “Bella ikut papa dan mama pindah ke Kalimantan. Katanya sih ke kota Pontianak. Papa Bella asalnya dari sana, makanya papa mau pindah dan benar-benar netap di sana” ujar ku jelas.

            Sedih rasanya aku meninggalkan mereka semua. Tapi aku coba menghapuskan kesedihan mereka dengan berkata bahwa kita masih bisa komunikasi dengan videocall. Mereka semua pun mengiyakan hal itu. Pelukkan terakhir ku bersama sahabatku itu.

            Setelah dari gedung itu, aku, papa dan mama segera menuju bandara untuk terbang dari Jakarta menuju Pontianak. Daerah yang sering di katakana oleh orang sebagai daerah yang cukup panas. Tapi justru itulah yang ku cari. Karena aku sedikit ingin memudarkan kulit ku yang berwarna kuning langsat yang pucat ini.

            Sesaat lagi penerbangan akan berlangsung. Mungkin dalam hitungan jam pesawat ini akan mendarat. Melirik ke luar jendela, tampak hamparan sawah yang indah dan susunan rumah penduduk yang tidak terlalu padat seperti di Jakarta.

            “Ma, ternyata tidak terlalu panas ya ma? Tidak seperti di Jakarta, terkadang dan penuh dengan polusi ma. Sepertinya Bella akan betah ma di sini. Tapi Bella maunya sekolah yang sesuai dengan nilai Bella dan sekolah yang mampu membuat Bella betah ya ma” pinta ku kepada mama.

            Liburan ku telah berakhir. Kini saatnya aku untuk mendaftar ke SMA-SMA yang telah di pilihkan oleh tante Gina. Tertera di kertas itu pilihan SMAnya yaitu SMA N3, SMA N1, SMA N8, SMA N7, dan SMA N4. Itu tandanya semua sekolah negeri ada di dalam pilihan ku. Mama pernah berpesan pada ku kalau aku harus memilih jurusan yang nantinya sesuai dengan impian ku. Tapi apa boleh di kata jika kurikulum baru hanya menyediakan dua jurusan saja (IPA dan IPS) tanpa ada jurusan sastranya.

            Sangat ramai yang mendaftar pada hari itu. Karena nilai ku yang cukup tinggi membuat ku dengan mudah masuk dan mendaftar di sekolah itu. Aku hanya duduk manis sambil menunggu tante Gina yang sibuk keluar masuk mengurusi berkas ku. Aku yang sedikit pembosan akhirnya memutuskan untuk berjalan berkeliling sekolah. Pada saat itu aku yang tengah berada di SMA N3 ingin tahu tentang sekolah ku nantinya. Berjalan menelusuri lorong demi lorong dan aku menemukan beberapa keunikkan. Sepanjang lorong tampak dua buah tong sampah di depan semua kelas dan tanaman air yang di gantung.sungguh sangat unik.

            Pendaftaran selesai begitu juga dengan daftar ulangnya. Tinggal akunya saja yang mengikuti MOS (Masa Orientasi Siswa). Kebetulan MOS ku pada saat itu bertepatan dengan bulan ramadhan. Kegiatan MOS ku hanya berlangsung selama tiga hari saja. Selama tiga hari itu aku aku tidak berbuka di rumah, akan tetapi aku berbuka di sekolah ku.

            MOS di SMA yang ku kira sama dengan MOS di SMP, ternyata jauh berbeda. Pada hari terakhir adalah hari yang sungguh sangat membuat aku dan siswa lainnya merasa terhenyak dengan kata dan pertanyaan yang di lontarkan dari para senior. Tapi tante Gina telah memberitahu ku bagaimana rupa MOS di SMA, jadi bagi ku ini hanya tradisi mereka saja. Nanti juga akan aku rasakan jadi mereka.

            Pada hari terakhir itu seluruh siswa di kelompokkan berdasarkan kelas masing-masing, dan aku masuk ke kelas sepuluh lima pada saat itu. Saat duduk sesuai kelas, aku mulai duduk pada banjar pertama dan baris ke enam dari depan. Para senior memberi aku dan seluruh siswa masing-masing kelas waktu berkenalan selama lima menit. Hal yang gila bagi aku dan teman-teman kelas ku. Bukan hanya satu dua orang tapi banyak sekali orang di ruangan itu. Tapi untungnya saja aku mampu mengetahui nama satu persatu teman wanita ku.

            Seusai MOS seluruh siswa di wajibkan masuk dan mengikuti upacara pada keesokkan harinya. Tak lupa sebelum pulang aku dan teman baru ku saling bertukar nomor, hanya agar lebih mudah menyampaikan informasi.

            Keesokkan harinya tepat pada hari Senin seluruh siswa siswi SMA N3 mengikuti upacara bendera. Kebetulan petugas pada hari itu adalah para anggota Paskibra. Terkagum-kagum aku memandang barisan dan kekompakkan mereka. Sudah ku tentukan aku akan mengikuti ekstrakulikuler apa nantinya, dan aku akan memilih Paskibra.

            Waktu belajar belum efektif selama satu minggu aku masuk. Selama satu minggu itu setiap guru yang masuk selalu menyuruh melakukan perkenalan diri. Bagi ku itu adalah solusi agar semua penghuni kelas sepuluh lima mampu saling mengenal satu sama lain.

            Hampir saja lupa aku menceritakan tentang keadaa kelas ku. Kelas yang ku tempati adalah ruang seni. Dimana kelas sepuluh lima adalah satu-satunya kelas mempunyai karpet di dalamnya, mempunyai lemari yang sangat banyak isinya, mempunyai panggung tersendiri di dekat pintu masuk, dan sebuah ruang band yang memiliki peredam suara. Sungguh ruang kelas yang lengkap dan lucu. Bagaimana tidak lucu jika meja yang dimiliki adalah sebuah meja panjang bak meja di laboratorium. Dimana setiap satu meja terdiri dari lima orang.  Meja ku terdiri dari lima bidadari, dan salah satunya adalah aku, dan yang lainnya adalah Rizqa, Via, Opi, dan Eka. Teman-teman baru yang menbuat ku merasa nyaman.

            Detik, menit, jam, bahkan hari yang aku lalui membuat ku semakin akrab dengan teman baru ku itu. Walaupun aku sudah mempunyai teman baru dan lingkungan baru, tapi jujur aku masih saja teringat dan merindukan sahabat-sahabat ku di Jakarta. Mungkin minggu depan aku akan menghubungi mereka semua dengan videocall.


            Enam bulan aku menunggu seragam baru ku jadi. Pakaian pertama yang dibagikan adalah pakaian olahraga, yang kedua adalah pakaian pramuka, pakaian yang ketiga adalah pakaian putih abu-abu (pakaian yang selama ini aku nantikan), dan terakhir adalah pakaian khasnya atau bisa dibilang baju batiknya. Ternyata tante Gina tidak salah memilihkan ku sekolah. Sangat layak dan sesuai apa yang aku mau. Siapa yang tidak betah dengan keteduhan dan kedamaiannya. Secara sehat kami semua bersaing di sini. Ya, begitulah hal yang terjadi pada ku setahun yang lalu.
Puncak Menara

            Siapa yang tidak tahu dengan kota Paris dan menara besinya di Champ de Mars tepian Sungai Seine di Paris? Tentu semua orang tahu dengan Tour Eiffel. Kota yang romantis yang ingin dikunjungi oleh semua orang dari berbagai belahan penjuru dunia. Dan sebuah kota yang pernah menjadi lautan asmara seorang wanita kelahiran Bandung yang berdarah campuran Arab-Jawa yang memiliki rona paras luar biasa anggunya.

            Syafiqa Aqila adalah nama yang indah, dan seindah orang yang memiliki nama tersebut. Wanita cerdas, yang terlahir dari keluarga yang sangat taat kepada agamanya. Segala aturan dan nasehat dari orang tua yang selalu didengar dan dilakukan tanpa bantahan membuat Afiqa mampu menyelesaikan kuliahnya di luar dugaan. Di usianya yang masih sangat muda sudah mampu membuat orang tuanya bangga.

            “Hitungan bulan aku akan meninggalkan kota ini, meninggalkan umi dan abi. Itu semua akan membuat ku memiliki kerinduan yang tak berujung. Tapi itu bukanlah alasan. Aku akan tetap terbang ke kota penuh cinta untuk melanjutkan kuliah ku. Aku harap di kota itu kelak, bayang dan sayang ku kepada umi dan abi terlintas selalu dan begitu pula dengan rasa cinta ku kepada-Mu akan selalu terjaga pula dalam ketaatan ku menghadap-Mu” begitulah ungkapan yang keluar ketika jari-jemari yang halus menyentuh satu per satu huruf pada keyboard laptop miliknya.

            Pagi indah yang selalu disambut Afiqa dengan senyuman dan rasa syukur kepada-Nya. Karena bagi Afiqa itu adalah jawaban dari do’annya.

            “Afiqa, bangun sayang. Nanti kamu buru-buru ke bandaranya” ujar seseorang dari luar kamarnya.

            Semua barang telah Afiqa persiapkan selama tiga hari sebelumnya. Segala keperluannya sudah siap dan tentunya tenaga juga dipersiapkan untuk menempuh perjalanan yang cukup jauh itu.

            “Iya Afiqa udah bangun” jawab Afiqa dari dalam kamarnya.

            Tampak seorang gadis mungil menuruni tangga dengan pakaian sangat tertutup. Siapa lagi kalau bukan Afiqa.

            “Kamu sudah siap?” tanya seorang lelaki yang sedang duduk di meja makan itu.
            “Sudah kok. Tapi Afiqa mau makan dulu ya. Kan ntar Afiqa bakalan kangen sama masakkan umi, sama suasana sarapan kita ini. Emangnya umi dan abi tidak akan merasakan rasa rindu nanti ketika Afiqa pergi?” tanya Afiqa panjang.
            “Tentu abi dan umi akan rindu sama kamu sayang. Toh anak abi dan umi hanya kamu saja. Kamu tahu kenapa abi dan umi bersikap seperti ini?” ujar abi.
            “Iya Afiqa tahu kok. Abi dan umi hanya tidak mau sedih di depan Afiqa karena takut Afiqa bimbang. Iya kan?” tanya Afiqa dengan senyum manjanya.

            Senyum lebarlah yang diberikan keduanya. Dan betapa gundahnya hati Afiqa saat itu. Sama saja yang Afiqa lakukan. Tidak ingin membuat kedua orang tuanya bimbang.

            “Umi dan abi ikut mengantar Afiqa ke bandara?” tanya Afiqa.
            “Sepertinya tidak sayang. Umi dan Abi hari ini memiliki urusan penting di kantor. Tidak apakan jika kami tidak ikut mengantar?”.
            “Hmmm, Afiqa maunya kalian ikut. Tapi, Afiqa bisa ngerti kalau umi dan abi sibuk” dengan nada yang sedikit berat untuk menyampaikannya.
            “Afiqa pamit ya. Umi dan abi jaga diri di sini. Jangan lupa makan, jaga kesehatannya, jangan lupa untuk rindu dengan Afiqa, dan doa-in Afiqa sehat terus dan bisa menyelesaikannya dalam tempo yang cepat ya” ujar Afiqa yang sambil memeluk keduanya.
            “Iya sayang. Kamu jangan khawatir dengan keadaan kami di sini. Yang perlu itu kamu. Kamu yang harus jaga diri, di sana itu kamu di negeri orang. Yang abi dan umi tahu anak abi sekarang tetap jadi anak abi dan jangan pernah kamu pulang menjadi anak abi tapi bukan anak abi yang sekarang”.

            Pelukkan erat Afiqa membuat uminya tidak kuat menahan air mata yang ingin menetes sedari tadi. Dengan lembut Afiqa melepas pelukkan itu dan mengusap air mata di pipi uminya.

            “Umi kenapa menangis? Afiqa hanya pergi untuk beberapa tahun saja untuk melanjutkan kuliah Afiqa. Afiqa nanti bakalan sering-sering untuk menelfon umi dan abi. Jadi umi jangan sedih ya. Afiqa nggak mau ngelihat umi sedih apalagi menangis seperti ini. Afiqa merasa berdosa karena membuat umi menangis” ujar Afiqa sedih.

            Tidak ada jawaban yang terdengar melainkan hanya senyum manis yang terlintas dari bibir gadis yang membawanya ke dunia. Meraih dan mencium tangan keduanya lalu beranjak dari teras rumah dengan langkah yang tenang.

            Tangan lembut membuka jendela beroda empat itu. Tampaklah jari-jemari yang indah  menari menyampaikan kepergiannya. Perlahan melaju dan semakin jauh sehingga rumah yang tadinya terlihat jelas, kini tudung rumah itu pun telah lenyap entah kemana.

            Dear Diari

            Hari ini hari terakhir ku barada di sini dan hari ini hari terakhir ku menulis mu di kota ini. Betapa bersyukurnya aku ketika bangun dihari ini disambut oleh senyum mentari yang megah yang membuatku berterima kasih karena doa ku telah terkabulkan. Aku bisa kembali membuka mata ini saja itu sudah sesuatu yang luar biasa hebatnya bagi ku.
            Terbang ke negeri orang untuk pertama kalinya adalah bukan hal yang mudah bagiku sekali pun mungkin itu menyenangkan bagi kebanyakkan orang.
            Jauh dari umi dan abi, jauh dari sanak keluarga dan itu artinya aku harus menjaga diriku sendiri. Sukses menjaga rasa cinta kasih kepada-Nya berarti aku juga sukses menjaga diriku ini.

            Tanpa Afiqa sadari kendaraan yang mengantarnya ke bandara telah sampai. Afiqa dan supir pribadinya itu pun segera menurunkan barang-barang dan bergegas masuk.

            “Bi, aku berangkat dulu ya” ujar Afiqa.
            “Titip umi dan abi ya bi. Kalau ada apa-apa sesegera mungkin untuk menghubungi Afiqa” pinta Afiqa lembut.
            “Iya mbak, ntar pasti bibi jagain. Mbak Afiqa hati-hati di sana. Sebab yang saya tahu lebih enak hujan batu di negeri sendiri dari pada hujan emas di negeri orang. Jaga diri ya mbak. Sebab saya takut ada apa-apa dengan keluarga di sini kalau mbak kenapa-kenapa” ujar panjang dari seorang wanita.

            Tangan suci dan jari-jemari yang mungil terentang seperti bendera. Senyum lebar di sudut bibir sangat terlihat manis dan menyejukkan kaum adam yang melihatnya.

            Hari itu hari yang tidak mengenal kata lelah dan tidak menemui titik neraka. Dengan lepasnya dan lembutnya kaki putih berbalut stocking dan beralaskan sepasang flat shoes melangkah dengan ringannya.
           
            “Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa, Welcome Paris” teriak Afiqa.
            “Akhirnya aku sampai juga dan mampu menginjakkan kaki di Perancis” lanjut Afiqa dengan nada senang.

            Tiba-tiba saja ada beberapa orang yang menghampirinya. Dan betapa terkejutnya Afiqa ketika orang itu tahu namanya dan berbicara dengan bahasa Indonesia yang fasih. Tidak pernah Afiqa duga, bahwa sesampainya dia di sana akan bertemu orang yang sama seperti dirinya.

            “Assalamu’alaikum” sapa seorang wanita bercadar.
            “Wa’alaikumsallam umi” jawab Afiqa ramah.

            Perbincangan yang panjang dan di akhiri undangan makan malam adalah suatu kehormatan bagi Afiqa.

            “Assalamu’alaikum abi,,”.
            “Wa’alaikumsallam Afiqa. Kamu sudah sampai nak?”.
            “Alhamdulillah sudah abi”.
            “Afiqa ini umi. Bagaimana? Suka dan betah di Paris?”.
            “Insyaallah Afiqa betah umi. Umi Afiqa mau cerita sama umi dan abi. Bisa di loudspeaker umi?”.
            “Tentu sayang, memangnya kamu mau cerita apa?”.
            “Ternyata di sini ada orang muslim dan orang Indonesia juga. Afiqa baru nyampe saja sudah dapat undangan makan malam bersama keluarganya”.
           
            Perjalanan yang jauh dan sangat melelahkan. Tapi rasa itu hilang saat Afiqa di tawarkan oleh seorang wanita tua yang ramah untuk berkunjung ke rumahnya.
            “Sambutan yang luar biasa. Dengan sopan dan ramah kedatangan ku di sambut. Dan ditawarkan pula untuk tinggal di sana karena beliau tidak memiliki anak perempuan” ujar Afiqa ketika dia ingin tidur.

            Hari pertama berkeliling di kota Paris. Berjalan menelusuri kota itu, dan tiba-tiba saja mata Afiqa terhenti kepada sesuatu yang mampu membuat hatinya menikmati musim salju.

            “Akhirnya aku mampu berdiri di bawah rangkaian besi yang tingginya kurang lebih 1.063 kaki dan beranak tanggakan 1.710 buah. Betapa istimewanya jika aku bisa menaiki satu per satu anak tangga itu. Berada pada titik paling atas agar aku mampu merasa lebih dekat dengan-Mu” ujar Afiqa dalam hatinya.

            Perlahan tapi pasti Afiqa mulai menaiki satu per satu anak tangga itu dengan kaki mungilnya. Dengan rasa yang was-was Afiqa takut untuk melihat ke bawah. Acrophobia yang dimiliki Afiqa kini mampu dikatakan sedikit berkurang. Bagaimana tidak jika dia sudah berada di tengah-tengah menara itu.

            Tanpa ada kata menyerah Afiqa melewatinya. Dan cuaca yang sangat mendukung Afiqa untuk tetap naik ke puncaknya.

            “Assalamu’alaikum”.

            Tiba-tiba saja Afiqa tersontak kaget mendengar ucapan salam. Entah dari arah mana asalnya dan entah siapa yang mengucapkannya. Karena Afiqa yang saat itu sangat fokus dengan pegangannya sehingga sulit untuk membalikkan badannya ke arah sumber sumber suara itu.

            “Wa..wa’alaikumsallam” dengan nada gugup Afiqa menjawab salam itu.
            “Hati-hati mbak kalau berada di atas sini. Di sini anginnya sangat terasa. Jika kita tidak berpegang kuat dan berjalan hati-hati maka kita akan jatuh ke bawah bukan akan tetap terbang mengikuti arah anginnya” ujar seseorang dari arah belakang Afiqa.

            Mendengar kembali seseorang mengajaknya berbahasa Indonesia yang fasih Afiqa merasa tenang. Perlahan demi perlahan Afiqa membalikkan badannya. Karena angin yang bertiup sangat kencang membuat tangan Afiqa tiba-tiba terlepas dari besi yang di genggamnya.

            “Awas mbak…” teriak lelaki itu.

            Dengan gesitnya seperti sudah hafal dengan besi demi besi yang ada di puncak itu. secepat mungkin menarik tangan Afiqa dan menahan Afiqa agar tidak terjatuh.

            “Ma..maaf mbak. Saya tidak bermaksud menyentuh mbak sembarangan. Hanya saja saya refleks ketika melihat mbak yang hampir terjatuh”.

            Hanya bisa berdiam diri dan mematunglah yang Afiqa lakukan. Sekujur tubuhnya seketika membeku seperti berada di suatu tempat dengan suhu yang minus derajatnya. Dan pandangan kosong dari mata Afiqa ketika menatap lelaki itu.

            “Oh, I..iya terima kasih kamu sudah mau menyelamatkan saya tadi. Astagfirullah…” ujar Afiqa yang gugup dengan pipi yang tiba-tiba di basahi oleh tetesan air.

            Rasa heran dengan hati yang penuh tanda tanya di dalam hati lelaki itu kenapa Afiqa menangis. Suasana yang tiba-tiba menjadi hening membuat suasana mencekam pada saat itu.

            “Mbak kalau saya boleh tahu nama mbak ini siapa? Saya Vadlan mbak”.

            Pergi tanpa jawaban. Itulah yang dilakukan Afiqa saat itu. Kali ini menuju kembali ke lantai dasar dengan menggunakan lift.

            “Betapa indah dan sempurnanya ciptaan Mu ya allah. Mata itu mampu membuat hati ini bergetar. Entah apa mungkin ini yang namanya cinta kepada sesama manusia? Dosakah aku mempunyai rasa untuknya? Apakah dia juga mempunyai rasa yang sama?” ujar Afiqa dalam hatinya.

            Hari yang melelahkan, menengangkan, dan mendebarkan. Jatuh hati kepada seseorang yang baru untuk pertama kalinya adalah hal yang mustahil bagi Afiqa. Karena Afiqa sendiri tidak pernah tahu rasa jatuh cinta itu seperti apa dan bagaimana. Tapi yang Afiqa pernah dengar adalah, jatuh cinta apalagi pada cinta pertama itu adalah indah rasanya.

            Tepat sepertiga malam Afiqa tiba-tiba terbangun. Entah apa yang membangunkannya. Berjalan dengan langkah yang sadar atau tidak menuju ke kamar mandinnya untuk berwudhu.

            Di dalam do’a biasanya kali ini Afiqa menyelipkan do’a lainnya. “Ya allah, rasa indah apa yang hadir di dalam dada ini? Rasa yang memenuhi rongga dada ini. Begitu sesak terasa. Ya allah jangan biarkan hati ini berpaling dari Mu, jangan biarkan aku mendua dari Mu. Aku mohon pada Mu jaga rasa ku ini. Jauhkanlah aku dari perbuatan dosa, dari rasa ini” ujar Afiqa di dalam do’anya.

            Hari demi hari Afiqa lewati di Paris. Tahun terakhir Afiqa berada di Paris. Karena lagi dan lagi Afiqa mampu menyelesaikan kuliahnya dengan sangat cepat. Betapa bangganya Afiqa dengan hasil yang dia dapat.

            “Afiqa..” teriak seseorang dari seberang sana.

            Akan menjadi hari yang bahagia apabila nama Afiqa tercantum di papan nama. Dan do’a Afiqa terjawab. Senyum indah terlukis di sudut bibir Afiqa.

            Dear Diari

            Hari terakhir di kota ini. Pergi dengan selamat dan pulang dengan selamat itulah yang tentunya diharapkan oleh umi dan abi. Tentu umi dan abi akan bahagia jika mengetahui aku lulus kembali dengan waktu yang cepat. Dan tidak ingin menyia-nyiakan hari ini. Awal kedatangan ku aku menginjakkan kaki untuk pertama kalinya ke satu tempat, dan kenapa tidak untuk hari terakhir ku ini.

            Setelah selesai memberesi barangnya, Afiqa pun berniat ke puncak Eiffel untuk terakhir kalinya. Dengan sesegera mungkin Afiqa menuju sebuah taksi.
Kali ini untuk menghemat waktu Afiqa menggunakan lift untuk sampai di atas puncak itu. Karena akan membuang-buang waktu jika dia menaikki tangga satu per satu.

            “Ternyata benar tentang mimpi tadi malam itu. Aku akan bertemu kamu lagi. Dan tentunya aku ingin menyampaikan sesuatu” ujar lelaki yang dia temui beberapa tahun lalu tepat di atas itu juga.
            “Kamu siapa? Sepertinya kita pernah bertemu” ujar Afiqa.

            Berbincang cukup panjang dengan kaki menjuntai ke arah bawah. Waktu yang sangat singkat untuk mengenal.

            “Afiqa, aku boleh ngomong? Mungkin ini terlalu cepat untuk kamu. Tapi bagi aku ini udah saatnya” ujar lelaki itu.
            “Tentang apa? Apa ada hubungannya dengan aku?” tanya Afiqa heran.
            “Aku ingin kita saling mengenal satu sama lain lebih jauh lagi. Aku mau kamu tetap di sini bersama aku dan menemani aku di sini untuk selamanya” ujar Vadlan tegas.
            “Kamu melamar aku? Maaf, kamu sepertinya berbicara pada orang yang salah. Seharusnya kamu tidak berbicara ini kepada ku. Karena ada hal yang belum kamu tahu tentang aku”.
            “Aku tidak menolak, atau pun mengiyakan perkataan kamu. Hanya saja aku butuh waktu untuk itu. Karena aku takut salah melabuhkan perasaan ini. Aku takut melabuhkan kepada orang yang tidak melabuhkan hidupnya dengan untuh untuk sang khaliq. Aku hanya ingin melabuhkan kepada orang yang sama seperti ku yang melabuhkan cinta kasih sayangnya kepada sang khaliq, yang mampu menjadi imam ku hingga di akhirat kelak, dan mampu berkata bahwa dia mencintaku karena allah”.

            Mendengar perkataan itu Vadlan hanya mampu tersenyum kecil. Wanita impian para kaum adam kini hadir dan duduk tepat di sampingnya. Akan tetapi apa boleh buat, Vadlan akan tetap mengejar surganya itu.


            “Baiklah, aku bersedia melabuhkan cinta ku kepada seorang gadis yang sangat istiqomah yang mampu melabuhkan hidup, cinta dan kasih sayangnya kepada sang khaliq. Dan aku melabuhkannya karena aku mencintai dia karena allah” ujar Vadlan.
Satu Tatapan

            Pagi itu kenyenyakkan tidur Dimas dibangunkan oleh gaduhnya suara teriakkan yang bersumber dari luar rumahnya. Siapa lagi kalau bukan ketiga sahabatnya itu. Datang dan memanggil terus-menerus nama Dimas.

            “Ngapain sih pagi-pagi?!” sahut Dimas ketus.
            “Jalan yuk?”.
            “Tapi gue belum beres-beres nih?”.
            “Lo kira kita semua udah?”.

            Tanpa berfikir panjang Dimas segera keluar dan mengendarai sepeda gunungnya itu. Beranjak pergi meninggalkan halaman rumah dan berkeliling di kebun teh adalah kebiasaan Dimas bersama sahabatnya. Hari itu Dimas dan sahabatnya berkeinginan untuk ke sebuah danau yang tidak jauh letaknya dari kebun teh.

            Seorang gadis yang duduk di pinggir danau. Gadis yang memiliki rambut hitam pekat yang menjuntai di bawah bahu, dengan gaun selutut berwarna pink dan di tambah jaket rajutan berwarna putih menghiasi pandangan di pagi itu. Entah siapa namanya tidak di ketahui oleh Dimas dan sahabatnya. Dengan rajinnya mengikuti dia hingga ke rumahnya.

            “Cari siapa?” tanya seorang laki-laki berkumis tebal.
            “Nggak cari apa-apa om” ujar Dimas gugup.
            “Ya sudah pulang sana kalau tidak ada apa-apa”.

            Terbirit-birit Dimas dan sahabatnya berlari meninggalkan halaman rumah gadis tersebut dan pulang tanpa mendapatkan hasil.

            Tidak kunjung menyerah untuk mengetahui nama gadis itu. Dimas pun beranjak dari rumahnya dengan maksud mengunjungi rumah gadis tersebut.

            “Kamu ngapain ke sini malam-malam sendirian lagi”.
            “Lagi mutarin hutan. Kamu mau ikut?”.
            “Besok mungkin. Tapi kamu yang jemput aku ke sini”.
            “Tapi aku takut dengan papa kamu. Kita ketemu di danau kemarin aja gimana?”.
            “Hmmm, oke. Ya udah aku masuk dulu ya”.

            Hari berikutnya Dimas keluar kembali dengan gaya santainya yang selalu memakai  jaket dan celana pendek.

            Mengendarai satu sepeda berdua, memutari kebun teh dan memetiknya. Suasana yang sangat indah dan mampu membuat senyuman lepas di bibir mereka berdua. Melanjutkan kembali duduk di jembatan pinggiran danau dan saling mengenal adalah hal yang dilakukan Dimas.

            “Ahahahhaa, iya iya kamu benar. Orang tua itu memang suka mengambil keputusan tiba-tiba” ujar Dimas.
            “Sebentar-bentar Ica..Ica dan selalu Ica. Kalau kamu pasti Dimas..Dimas dan Dimas, iya kan?”.
            “Iya nih, kok kamu tahu aja? Peramal ya? Ahahaha, bercanda kok. Oh iya nih buat kamu” sambil mengulurkan sebuah syal rajutan berwarna cream.
“Makasih ya Mas” ujar Ica dengan senyum manisnya.
“Ca, lusa aku mau ke Jakarta nih”.
“Mau ngapain? Aku besok ke Jakartanya”.
“Mau pindah sekolah ke sana”.
“Emangnya kamu SMA di mana?” tanya Ica pelan.
“Aku tau mau sekolah di mana tapi aku nggak bisa ngasih tahu kamu. Dan kamu juga jangan kasih tahu ke aku ya kalau kamu sekolah di mana” ujar Dimas.
“Kenapa? Jakarta kan luas banget Mas. Gimana kita mau ketemu?” tanya Ica heran dengan wajah memelas.
“Ica, kalau kita jodoh kita pasti ketemu kok nantinya” jelas Dimas.

Pertemuan hari itu berlangsung hingga malam hari. Dimana di tempat itu di penuhi dengan kunang-kunang yang menerangi malam yang gelap itu.

Terlihat jelas kerumunan orang sedang berkumpul melihat sesuatu yang unik. Siapa yang tidak heboh jika ada yang sedang menari patah-patah atau breakdance di suatu sekolah. Di dalam kerumunan itulah Dimas dan Ica kembali di pertemukan.

“Kamu nyariin aku?” tanya Ica.
“Tadi itu pacar kamu?” berbalik bertanya.
“Kenapa? Kamu cemburu?” ledek Ica.
“Aku sama dia itu sahabatan dari kecil dan akhirnya papa mama kita maksain untuk aku dan Bryan pacaran” lanjut Ica.
“Ternyata di sini, di kota yang udah canggih masih berlaku ya zaman Siti Nurbaya?” ujar Dimas sedikit datar.
“Nggak mau mikirin itu ah. Oh iya kamu benar ya. Kalau jodoh itu pasti ketemu lagi”.
“Kamu masih ingat aja dengan kata-kata itu”.
“Ya walau hanya beberapa hari tapi rasanya lama banget”.

Hari pertama Dimas di dunia putih abu-abu barunya pada hari itu berakhir dan keduanya pun kembali ke rumah mereka masing-masing.

Hari kedua Dimas datang ke sekolah bersama sahabatnya sambil menegendarai sepeda sama seperti ketika masih di Bandung. Dan lagi-lagi Dimas di pertemuka dengan Ica. Akan tetapi Ica tidak sendiri, melainkan bersama Bryan kekasihnya.

“Pagi-pagi lo udah ngelamun. Ngelamunin apa sih Ca?” tanya Kayla yang merupakan salah seorang sahabat Ica di sekolahnya.
“Lagi ngelamunin dia. Dia sekolah di sini, dan dia ngelihat gue sama Bryan” ujar Ica yang masih menatap kaku.
“Siapa? Anak Bandung itu?”.
“Jodoh dong kalau gitu. Nah pasti lo lagi bingung dengan Bryan kan?” lanjut Kayla.

Waktu yang sama tapi dalam ruang yang berbeda dan suasana yang sama.

            “Mas, lo harus ingat kita itu ke sini buat sekolah. Kan lo sendiri yang bilang ke gue dulu: “Kalau cinta itu jangan di kejar biarin aja mengikuti alurnya kemana. Dan lo juga bilangkan kalau cinta itu sama seperti air. Air akan tetap mengalir  hingga ke ujungnya sekali pun air itu mengalir ke celah yang sangat kecil. Dan begitu juga cinta. Nah kalau dia memang jodoh lo kalian pasti bakalan nyatu di akhir nanti walaupun sekarang dan ke depannya cobaan kalian berat banget”. Lo ingat kan nasehat itu Mas?” tanya Arka.
            “Nah jadi lo nggak perlu berantem kayak tadi”.

            Hari itu adalah hari ulang tahun salah satu anak kelas tiga yang bernama Sisi, semua siswa SMA Negeri 3 di undang dalam party itu. Dan semua siswa bersiap-siap untuk menghadiri party itu.

            Cinta memang mampu mempertemukan dua hati yang bersatu dalam sebuah kegelapan atau dalam cahaya yang sempit.

            Ulang tahun Sisi di adakan di sebuah club malam. Suasana remang-remang yang di huni oleh keramaian orang dan riuhnya suara musik yang berdegup-degup kencang masih mampu mempertemukan Dimas dan Ica dari kejauhan.

            Pertemuan yang tidak berlangsung lama itu berakhir karena salah satu dari mereka pergi karena ada hal yang tidak enak dilihat.

            “Nyiiiiiiiiiiiiit….. gubrak!”.

            Tiba-tiba saja terdengar suara benturan yang sangat keras sekali dari arah depan. Tampak Dimas yang sesegera mungkin berlari untuk menghampiri suara benturan itu terjadi.

            Betapa shocknya Dimas ketika tiba di tempat suara benturan itu berasal.

            “Ica..” teriak Dimas histeris.
            “Tolong..tolong panggil ambulance” ujar Dimas panik.

            Malam yang kelabu untuk Dimas, Kayla, dan Bryan. Berjalan mondar-mandir di depan ruang UGD sambil menunggu kabar tentang Ica.

            “Kecelakaan itu berakibat fatal untuk putri ibu dan bapak. Akibat benturan yang sangat keras, saraf pada mata dan tulang belakangnya mengalami kerusakan” ujar dokter yang menangani Ica. Terngiang jelas kalimat itu di telinga Dimas dalam langkah kakinya menuju rumah.

            Hari demi hari berlalu dengan heningnya suasana. Ica yang dibawa oleh kedua orang tuanya ke luar negeri untuk mengalami pengobatan membuat Dimas, Kayla, dan Bryan merasa kehilangan sosok Ica.

Kehidupan di sekolah seakan mati. Tiada cerita dan kisah baru yang melintas di telinga Dimas tentang Ica. Bayang Ica selalu saja hadir mengisi lamunan Dimas. Berbulan-bulan berjalan dengan rapuhnya harapan tentang Ica.

“Eh non Ayu, udah pulang non?” tanya seorang wanita yang bertugas di rumahnya.
“Ica mana?” tanya seorang gadis yang tidak sebaya dengan Ica.
“Ada di atas non, mau saya panggilkan?”.
“Nggak usah bi, makasih”.

Berjalan menelusuri lorong rumah dan menuju ke kamar Ica. Apa boleh di kata air mata sulit untuk ditahan dan keluar dengan sendirinya.

Duduk tepat di sebelah Ica dan merangkul Ica dengan erat.

“Dek, kakak udah pulang. Maafin kakak ya. Kakak baru tahu kabar tentang kamu. Kakak pergi dari rumah karena kakak nggak betah dengan suasana rumah yang selalu berubah-ubah”.

Sesampainya Dimas di sekolah tampak mobil Bryan lewat dan berhenti di depan sekolah. Berharap gadis mungil keluar dari dalam mobil itu.

Ica sangat sulit menerima keadaanya yang serba kekurangan sekarang. Maka dari itu Ica memutuskan untuk pergi menjauh dan hidup sendiri dari siapa pun yang dia kenal.

“Kenapa harus lari kalau nantinya kita bakal di pertemukan kembali. Percuma kamu lari karena kita itu jodoh. Kamu jangan pernah takut aku berhenti mencintai kamu, karena kamu saja bisa menerima kekurangan ku kenapa aku tidak bisa menerima kekurangan mu. Ica kamu tahu kenapa aku di sini sekarang? Karena aku ingin ada di samping kamu sampai kamu sembuh”.

Dimas dan Kayla adalah orang terbaik dalam hidup Ica yang mampu memberikan cahayanya kembali. Yang mampu memberi warna dalam hidup Ica.

Hari-hari Ica kembali seperti awal. Melewati hari bersama orang-orang yang tulus sayang kepadanya. Kebun teh dan danau menjadi tempat Ica, Dimas, dan Kayla bercanda tawa.

“Mas? Lo sakit apa?” tanya Kayla.
“Kenapa lo diem?” lanjut Kayla.
“Lo tahu nggak, kalau ada apa-apa sama lo itu artinya bakalan ada apa-apa juga sama Ica”.
“Nggak kok. Nggak bakalan ada apa-apa sama Ica kalau lonya nggak cerita sama dia”.
“Memangnya lo sakit apa Mas?” tanya Kayla lagi.
“Gue kanker hati Kay. Tapi gue minta sama lo agar nggak usah bilang ini sama Ica. Gue nggak mau ada apa-apa sama Ica. Lo ngertikan kenapa gue ngelakuin ini?”.
“Udah seberapa jauh sakit lo?”.
“Gue nggak pernah ambil tahu tentang sakit gue ini. Gue nggak mau ngerasain sakit gue ini karena gue mau ngersain hidup normal seperti sahabat-sahabat gue yang lainnya”.
“Hmmm, gue udah nggak tahu lagi mau ngomong apa sama lo”.

Hidup dalam kegelapan dan memiliki keluarga yang tidak utuh itulah yang Ica rasakan saat ini. Keadaan yang sangat berat untuk Ica lewati.

Di jembatan pinggiran danau Dimas dan Ica berbaring bersama sambil menjuntaikan kaki mereka ke dalam air. Bersenda gurau mengingat kembali ingatan pertama mereka masing-masing ketika bertemu.

“Ca kamu mau tahu nggak?” tanya Dimas.
“Tahu apa Mas?”.
“Jodoh itu bukan hanya di dunia tapi di akhirat juga”.
“Iya tahu kok. Kenapa memangnya?”.
“Kalau kita nggak jodoh di dunia gimana Ca?”.
“Kenapa bicara yang nggak-nggak sih?”.
“Nggak kok, nggak ada maksud apa-apa Ca”.
“Ca, aku boleh ngomong sesuatu?”.
“Hmm iya”.
“Aku cuman mau bilang kalau aku itu sayang banget sama kamu. Aku takut kalau harus pisah dan kehilangan kamu Ca. Kamu itu gadis kedua yang istimewa letaknya di hati aku setelah ibu”.
“Aku maunya tempat ini mampu jadi tempat yang bersejarah bagi kita nanti Ca”.
“Oh iya Ca aku punya satu permintaan buat kamu”.
“Apa itu Mas?”.
“Apa pun yang terjadi dengan kita, kita harus tetap tegar, tenang, dan sabar menghadapinya. Jangan pernah ada air mata lagi yang keluar. Karena Kesedihan itu hanya berlangsung sementara, nggak abadi seperti kebahagiaan kita nanti”.
“Mas, makasih ya. Makasih banget udah mau menerima, mencintai, dan menyayangi Ica sepenuh hati tanpa ada rasa iba sedikit pun. Ica merasa menjadi wanita yang paling beruntung bisa bertemu dengan lelaki yang bisa menjaga Ica, membuat Ica bisa melihat melalui rasa yang berbagai warnanya. Yang kamu sendiri memberinya. Aku juga sayang sama kamu Mas”.

Hari pun petang. Tiada yang tahu kalau hari itu akan jadi hari terakhir untuk Dimas dan Ica. Tanpa Ica sadari Dimas telah beranjak pergi dari kehidupannya untuk selamanya dan tidak akan pernah kembali lagi.


To : Reinissa Zhafira


Happy Birthday yang ke 17th ya Ca. Maaf aku nggak bisa ada di samping kamu ketika kamu membuka mata kamu kembali. Maaf aku nggak bisa ngasih apa-apa untuk kamu. Aku hanya bisa memberi kedua mataku itu untuk kamu.
Kamu akan bisa melihat kenangan kita yang lalu dalam tidurmu dan setiap saat kamu memejamkan mata.
Ica, kamu itu adalah alasan ku untuk tersenyum di balik kesakitan ku, dan kamu adalah alasan ku untuk bertahan hidup. Tapi apa boleh buat. Karena tuhan ingin kamu dan aku itu berjodoh di atas sana.
Aku titip kedua mata ku kepadamu agar aku selalu bisa melihat mu ketika kau tersenyum, melihat mu menjadi ibu, dan melihat mu di hari tua nanti.
Dan kamu harus ingat, apa pun yang terjadi dengan kita nanti kita harus tetap tegar, tenang, dan sabar menghadapinya. Jangan pernah ada air mata lagi yang keluar. Karena Kesedihan itu hanya berlangsung sementara, nggak akan abadi seperti kebahagiaan kita nanti. Tepatnya kebahagiaan kita di surga nanti.
Sampai ketemu di surga ya bidadari kecilku, I love you so much Reinissa Zhafira……..


Salam sayang             


Dimas Praditya Maedhika