Satu Tatapan
Pagi
itu kenyenyakkan tidur Dimas dibangunkan oleh gaduhnya suara teriakkan yang
bersumber dari luar rumahnya. Siapa lagi kalau bukan ketiga sahabatnya itu.
Datang dan memanggil terus-menerus nama Dimas.
“Ngapain
sih pagi-pagi?!” sahut Dimas ketus.
“Jalan
yuk?”.
“Tapi
gue belum beres-beres nih?”.
“Lo
kira kita semua udah?”.
Tanpa
berfikir panjang Dimas segera keluar dan mengendarai sepeda gunungnya itu. Beranjak
pergi meninggalkan halaman rumah dan berkeliling di kebun teh adalah kebiasaan
Dimas bersama sahabatnya. Hari itu Dimas dan sahabatnya berkeinginan untuk ke
sebuah danau yang tidak jauh letaknya dari kebun teh.
Seorang
gadis yang duduk di pinggir danau. Gadis yang memiliki rambut hitam pekat yang
menjuntai di bawah bahu, dengan gaun selutut berwarna pink dan di tambah jaket
rajutan berwarna putih menghiasi pandangan di pagi itu. Entah siapa namanya
tidak di ketahui oleh Dimas dan sahabatnya. Dengan rajinnya mengikuti dia
hingga ke rumahnya.
“Cari
siapa?” tanya seorang laki-laki berkumis tebal.
“Nggak
cari apa-apa om” ujar Dimas gugup.
“Ya
sudah pulang sana kalau tidak ada apa-apa”.
Terbirit-birit
Dimas dan sahabatnya berlari meninggalkan halaman rumah gadis tersebut dan
pulang tanpa mendapatkan hasil.
Tidak
kunjung menyerah untuk mengetahui nama gadis itu. Dimas pun beranjak dari
rumahnya dengan maksud mengunjungi rumah gadis tersebut.
“Kamu
ngapain ke sini malam-malam sendirian lagi”.
“Lagi
mutarin hutan. Kamu mau ikut?”.
“Besok
mungkin. Tapi kamu yang jemput aku ke sini”.
“Tapi
aku takut dengan papa kamu. Kita ketemu di danau kemarin aja gimana?”.
“Hmmm,
oke. Ya udah aku masuk dulu ya”.
Hari
berikutnya Dimas keluar kembali dengan gaya santainya yang selalu memakai jaket dan celana pendek.
Mengendarai
satu sepeda berdua, memutari kebun teh dan memetiknya. Suasana yang sangat
indah dan mampu membuat senyuman lepas di bibir mereka berdua. Melanjutkan
kembali duduk di jembatan pinggiran danau dan saling mengenal adalah hal yang
dilakukan Dimas.
“Ahahahhaa,
iya iya kamu benar. Orang tua itu memang suka mengambil keputusan tiba-tiba”
ujar Dimas.
“Sebentar-bentar
Ica..Ica dan selalu Ica. Kalau kamu pasti Dimas..Dimas dan Dimas, iya kan?”.
“Iya
nih, kok kamu tahu aja? Peramal ya? Ahahaha, bercanda kok. Oh iya nih buat
kamu” sambil mengulurkan sebuah syal rajutan berwarna cream.
“Makasih ya Mas” ujar
Ica dengan senyum manisnya.
“Ca, lusa aku mau ke
Jakarta nih”.
“Mau ngapain? Aku besok
ke Jakartanya”.
“Mau pindah sekolah ke
sana”.
“Emangnya kamu SMA di
mana?” tanya Ica pelan.
“Aku tau mau sekolah di
mana tapi aku nggak bisa ngasih tahu kamu. Dan kamu juga jangan kasih tahu ke
aku ya kalau kamu sekolah di mana” ujar Dimas.
“Kenapa? Jakarta kan
luas banget Mas. Gimana kita mau ketemu?” tanya Ica heran dengan wajah memelas.
“Ica, kalau kita jodoh
kita pasti ketemu kok nantinya” jelas Dimas.
Pertemuan hari itu
berlangsung hingga malam hari. Dimana di tempat itu di penuhi dengan
kunang-kunang yang menerangi malam yang gelap itu.
Terlihat jelas
kerumunan orang sedang berkumpul melihat sesuatu yang unik. Siapa yang tidak
heboh jika ada yang sedang menari patah-patah atau breakdance di suatu sekolah. Di dalam kerumunan itulah Dimas dan
Ica kembali di pertemukan.
“Kamu nyariin aku?” tanya
Ica.
“Tadi itu pacar kamu?”
berbalik bertanya.
“Kenapa? Kamu cemburu?”
ledek Ica.
“Aku sama dia itu
sahabatan dari kecil dan akhirnya papa mama kita maksain untuk aku dan Bryan
pacaran” lanjut Ica.
“Ternyata di sini, di
kota yang udah canggih masih berlaku ya zaman Siti Nurbaya?” ujar Dimas sedikit
datar.
“Nggak mau mikirin itu
ah. Oh iya kamu benar ya. Kalau jodoh itu pasti ketemu lagi”.
“Kamu masih ingat aja
dengan kata-kata itu”.
“Ya walau hanya
beberapa hari tapi rasanya lama banget”.
Hari pertama Dimas di
dunia putih abu-abu barunya pada hari itu berakhir dan keduanya pun kembali ke
rumah mereka masing-masing.
Hari kedua Dimas datang
ke sekolah bersama sahabatnya sambil menegendarai sepeda sama seperti ketika
masih di Bandung. Dan lagi-lagi Dimas di pertemuka dengan Ica. Akan tetapi Ica
tidak sendiri, melainkan bersama Bryan kekasihnya.
“Pagi-pagi lo udah
ngelamun. Ngelamunin apa sih Ca?” tanya Kayla yang merupakan salah seorang
sahabat Ica di sekolahnya.
“Lagi ngelamunin dia.
Dia sekolah di sini, dan dia ngelihat gue sama Bryan” ujar Ica yang masih
menatap kaku.
“Siapa? Anak Bandung
itu?”.
“Jodoh dong kalau gitu.
Nah pasti lo lagi bingung dengan Bryan kan?” lanjut Kayla.
Waktu yang sama tapi
dalam ruang yang berbeda dan suasana yang sama.
“Mas,
lo harus ingat kita itu ke sini buat sekolah. Kan lo sendiri yang bilang ke gue
dulu: “Kalau cinta itu jangan di kejar biarin aja mengikuti alurnya kemana. Dan
lo juga bilangkan kalau cinta itu sama seperti air. Air akan tetap mengalir hingga ke ujungnya sekali pun air itu
mengalir ke celah yang sangat kecil. Dan begitu juga cinta. Nah kalau dia
memang jodoh lo kalian pasti bakalan nyatu di akhir nanti walaupun sekarang dan
ke depannya cobaan kalian berat banget”. Lo ingat kan nasehat itu Mas?” tanya
Arka.
“Nah
jadi lo nggak perlu berantem kayak tadi”.
Hari
itu adalah hari ulang tahun salah satu anak kelas tiga yang bernama Sisi, semua
siswa SMA Negeri 3 di undang dalam party
itu. Dan semua siswa bersiap-siap untuk menghadiri party itu.
Cinta
memang mampu mempertemukan dua hati yang bersatu dalam sebuah kegelapan atau
dalam cahaya yang sempit.
Ulang
tahun Sisi di adakan di sebuah club malam. Suasana remang-remang yang di huni
oleh keramaian orang dan riuhnya suara musik yang berdegup-degup kencang masih
mampu mempertemukan Dimas dan Ica dari kejauhan.
Pertemuan
yang tidak berlangsung lama itu berakhir karena salah satu dari mereka pergi
karena ada hal yang tidak enak dilihat.
“Nyiiiiiiiiiiiiit…..
gubrak!”.
Tiba-tiba
saja terdengar suara benturan yang sangat keras sekali dari arah depan. Tampak
Dimas yang sesegera mungkin berlari untuk menghampiri suara benturan itu
terjadi.
Betapa
shocknya Dimas ketika tiba di tempat
suara benturan itu berasal.
“Ica..”
teriak Dimas histeris.
“Tolong..tolong
panggil ambulance” ujar Dimas panik.
Malam
yang kelabu untuk Dimas, Kayla, dan Bryan. Berjalan mondar-mandir di depan
ruang UGD sambil menunggu kabar tentang Ica.
“Kecelakaan
itu berakibat fatal untuk putri ibu dan bapak. Akibat benturan yang sangat
keras, saraf pada mata dan tulang belakangnya mengalami kerusakan” ujar dokter
yang menangani Ica. Terngiang jelas kalimat itu di telinga Dimas dalam langkah
kakinya menuju rumah.
Hari
demi hari berlalu dengan heningnya suasana. Ica yang dibawa oleh kedua orang
tuanya ke luar negeri untuk mengalami pengobatan membuat Dimas, Kayla, dan
Bryan merasa kehilangan sosok Ica.
Kehidupan di sekolah
seakan mati. Tiada cerita dan kisah baru yang melintas di telinga Dimas tentang
Ica. Bayang Ica selalu saja hadir mengisi lamunan Dimas. Berbulan-bulan
berjalan dengan rapuhnya harapan tentang Ica.
“Eh non Ayu, udah
pulang non?” tanya seorang wanita yang bertugas di rumahnya.
“Ica mana?” tanya
seorang gadis yang tidak sebaya dengan Ica.
“Ada di atas non, mau
saya panggilkan?”.
“Nggak usah bi,
makasih”.
Berjalan menelusuri
lorong rumah dan menuju ke kamar Ica. Apa boleh di kata air mata sulit untuk
ditahan dan keluar dengan sendirinya.
Duduk tepat di sebelah
Ica dan merangkul Ica dengan erat.
“Dek, kakak udah
pulang. Maafin kakak ya. Kakak baru tahu kabar tentang kamu. Kakak pergi dari
rumah karena kakak nggak betah dengan suasana rumah yang selalu berubah-ubah”.
Sesampainya Dimas di
sekolah tampak mobil Bryan lewat dan berhenti di depan sekolah. Berharap gadis
mungil keluar dari dalam mobil itu.
Ica sangat sulit
menerima keadaanya yang serba kekurangan sekarang. Maka dari itu Ica memutuskan
untuk pergi menjauh dan hidup sendiri dari siapa pun yang dia kenal.
“Kenapa harus lari
kalau nantinya kita bakal di pertemukan kembali. Percuma kamu lari karena kita
itu jodoh. Kamu jangan pernah takut aku berhenti mencintai kamu, karena kamu
saja bisa menerima kekurangan ku kenapa aku tidak bisa menerima kekurangan mu.
Ica kamu tahu kenapa aku di sini sekarang? Karena aku ingin ada di samping kamu
sampai kamu sembuh”.
Dimas dan Kayla adalah
orang terbaik dalam hidup Ica yang mampu memberikan cahayanya kembali. Yang
mampu memberi warna dalam hidup Ica.
Hari-hari Ica kembali
seperti awal. Melewati hari bersama orang-orang yang tulus sayang kepadanya.
Kebun teh dan danau menjadi tempat Ica, Dimas, dan Kayla bercanda tawa.
“Mas? Lo sakit apa?”
tanya Kayla.
“Kenapa lo diem?”
lanjut Kayla.
“Lo tahu nggak, kalau
ada apa-apa sama lo itu artinya bakalan ada apa-apa juga sama Ica”.
“Nggak kok. Nggak
bakalan ada apa-apa sama Ica kalau lonya nggak cerita sama dia”.
“Memangnya lo sakit apa
Mas?” tanya Kayla lagi.
“Gue kanker hati Kay.
Tapi gue minta sama lo agar nggak usah bilang ini sama Ica. Gue nggak mau ada
apa-apa sama Ica. Lo ngertikan kenapa gue ngelakuin ini?”.
“Udah seberapa jauh
sakit lo?”.
“Gue nggak pernah ambil
tahu tentang sakit gue ini. Gue nggak mau ngerasain sakit gue ini karena gue
mau ngersain hidup normal seperti sahabat-sahabat gue yang lainnya”.
“Hmmm, gue udah nggak
tahu lagi mau ngomong apa sama lo”.
Hidup dalam kegelapan
dan memiliki keluarga yang tidak utuh itulah yang Ica rasakan saat ini. Keadaan
yang sangat berat untuk Ica lewati.
Di jembatan pinggiran
danau Dimas dan Ica berbaring bersama sambil menjuntaikan kaki mereka ke dalam
air. Bersenda gurau mengingat kembali ingatan pertama mereka masing-masing
ketika bertemu.
“Ca kamu mau tahu
nggak?” tanya Dimas.
“Tahu apa Mas?”.
“Jodoh itu bukan hanya
di dunia tapi di akhirat juga”.
“Iya tahu kok. Kenapa
memangnya?”.
“Kalau kita nggak jodoh
di dunia gimana Ca?”.
“Kenapa bicara yang
nggak-nggak sih?”.
“Nggak kok, nggak ada
maksud apa-apa Ca”.
“Ca, aku boleh ngomong
sesuatu?”.
“Hmm iya”.
“Aku cuman mau bilang
kalau aku itu sayang banget sama kamu. Aku takut kalau harus pisah dan
kehilangan kamu Ca. Kamu itu gadis kedua yang istimewa letaknya di hati aku
setelah ibu”.
“Aku maunya tempat ini
mampu jadi tempat yang bersejarah bagi kita nanti Ca”.
“Oh iya Ca aku punya
satu permintaan buat kamu”.
“Apa itu Mas?”.
“Apa pun yang terjadi
dengan kita, kita harus tetap tegar, tenang, dan sabar menghadapinya. Jangan
pernah ada air mata lagi yang keluar. Karena Kesedihan itu hanya berlangsung
sementara, nggak abadi seperti kebahagiaan kita nanti”.
“Mas, makasih ya.
Makasih banget udah mau menerima, mencintai, dan menyayangi Ica sepenuh hati
tanpa ada rasa iba sedikit pun. Ica merasa menjadi wanita yang paling beruntung
bisa bertemu dengan lelaki yang bisa menjaga Ica, membuat Ica bisa melihat
melalui rasa yang berbagai warnanya. Yang kamu sendiri memberinya. Aku juga
sayang sama kamu Mas”.
Hari pun petang. Tiada
yang tahu kalau hari itu akan jadi hari terakhir untuk Dimas dan Ica. Tanpa Ica
sadari Dimas telah beranjak pergi dari kehidupannya untuk selamanya dan tidak
akan pernah kembali lagi.
To
: Reinissa Zhafira
Happy
Birthday yang ke 17th ya Ca. Maaf aku nggak bisa ada di samping kamu
ketika kamu membuka mata kamu kembali. Maaf aku nggak bisa ngasih apa-apa untuk
kamu. Aku hanya bisa memberi kedua mataku itu untuk kamu.
Kamu
akan bisa melihat kenangan kita yang lalu dalam tidurmu dan setiap saat kamu
memejamkan mata.
Ica,
kamu itu adalah alasan ku untuk tersenyum di balik kesakitan ku, dan kamu
adalah alasan ku untuk bertahan hidup. Tapi apa boleh buat. Karena tuhan ingin
kamu dan aku itu berjodoh di atas sana.
Aku
titip kedua mata ku kepadamu agar aku selalu bisa melihat mu ketika kau
tersenyum, melihat mu menjadi ibu, dan melihat mu di hari tua nanti.
Dan
kamu harus ingat, apa pun yang terjadi dengan kita nanti kita harus tetap
tegar, tenang, dan sabar menghadapinya. Jangan pernah ada air mata lagi yang
keluar. Karena Kesedihan itu hanya berlangsung sementara, nggak akan abadi
seperti kebahagiaan kita nanti. Tepatnya kebahagiaan kita di surga nanti.
Sampai
ketemu di surga ya bidadari kecilku, I love you so much Reinissa Zhafira……..
Salam
sayang
Dimas Praditya Maedhika