22.16 Maulita Anggraeni Putri 0 Comments

Dunia Baru

Hari ini hari yang ku namai dengan sebutan perang dunia ke tiga. Cuaca yang dingin membangunkan ku dengan caranya yang sedikit demi sedikit menyelimuti tubuh ku dengan hawa dinginya. Akan tetapi rasa dingin itu sesegera mungkin memudar saat aku kembali teringat akan apa yang akan ku hadapi pada hari ini. Perang dunia ke tiga antara aku dan naskah soal, karena hari ini adalah hari dimana aku akan berjuang untuk kelulusan ku.

            Tangan yang lembut ini dengan perlahan membuka sesuatu yang membalut tubuh ku dari hawa dingin. Kaki indah dengan warna kuning langsat yang pucat kini tengah menjuntai di atas ubin berwarna putih. Kaget ku ketika menyentuh ubin kamar ku. Hawa dinginnya seakan menyelimuti ku kembali. Ku gapai saja alas kaki ku untuk melindunginya. Dengan gesit aku membuka kain yang berjuntai di muka gerbang udara, di iringi pula dengan aku yang membuka pintu kayu yang kecil. Mungkin cara ini adalah cara yang sangat ajaib. Seketika mampu memudarkan hawa dingin yang sedari tadi membungkus erat tubuh ku ini.

            Tentu pagi yang sangat indah bagi ku. Bagaimana tidak? Hari ini adalah hari yang telah ku tunggu-tunggu dalam jangka waktu yang cukup bagi ku. Setelah ujian ini aku hanya tinggal menunggu hasilnya saja. Kalau nanti aku dinyatakan lulus, itu artinya aku akan segera menjemput seragam putih abu-abu ku.

            Jarum jam tangan ku kini telah menunjukkan pukul 06:15. Bergegas aku keluar dari daerah perlindungan ku dengan perlengkapan yang berbeda dari biasanya. Menuruni tangga dengan gerak yang lincah.

            “Gimana? Udah siap kak buat ujiannya hari ini?” tanya mama padaku. Karena aku anak pertama terkadang mama dan papa memanggil ku dengan sebutan kakak.
            “Sudah kok ma. Tapi geregetan rasanya, takut aja soalnya beda ma” jawab ku lirih.
            “Lho, kenapa jadi minder gitu? Bukannya kamu sudah mempersiapkannya selama dua tahun enam bulan lebihkan?” ujar mama yang sambil memberi ku sarapan di pagi itu..
            “Iya sih ma, tapi Bella takut ma kalau gagal”.
            “Kamu ini gimana sih, senjata yang kamu rakit bertahun-tahun mana? Kenapa belum perang saja kamu sudah menyerah. Kalau semua tentara perang seperti kamu rugi mereka” ujar mama bijak.
            “Hmmmm, iya deh ma Bella akan terus optimis dan berusaha kok buat hari ini dan tiga hari kedepannya” sahut ku dengan menyantap roti bikinan mama.

            Pagi itu mama mengantar yang mengantar ku karena papa sedang piket di kantornya. Tanpa banyak berbicara pada mama saat dalam perjalanan, dan mama pun tahu aku diam  karena aku sedang sibuk membaca buku dan materi-materi ujian yang di berikan guru ku.

            Sesampainya aku di depan gerbang sekolah ku, aku pun turun dan menyalami mama dan meminta restu serta doa agar aku dapat dengan lancar menjawab lembar soal ku nanti. Begitulah yang ku lakukan selama empat hari aku menjalani ujian nasional ku.

            “teeeeeeeeeeeeeeeeeeeeetttt”.

            Terdengar jelas suara bel pulang pada hari terakhir berbunyi keras. Dengan menarik nafas yang panjang dan menghembuskannya sangat lega terasa, semua beban berat ku selama ini tersingkirkan semua. Tiba-tiba saja terdengar suara sebuah pengeras suara yang memberitahukan bahwa semua siswa dan siswi diharapkan datang kembali ke sekolah setelah satu bulan dari sekarang.

            Hari-hari kosong yang panjang ku isi dengan kegiatan yang positif. Hobi ku yang menulis membuat rasa jenuh ku hilang. Pada hari terakhir sebelum hari yang di tentukan aku selalu saja berdoa agar apa yang aku kerjakan tidak berakhir sia-sia.

            Tepat tanggal satu pada bulan Juni aku kembali ke sekolah ku itu beserta dengan para sahabat ku. Telah dikatakan pada hari terakhir ujian bahwa hasil kelulusan akan tertempel di mading utama yang terletak di samping ruang guru. Mengingat itu semua, aku dan sahabat ku berlari dengan hati yang berdebar sedari tadi. Sesampainya aku pada mading itu, dengan sorot mata yang tajam ku pandangi secarik kertas yang di tempel panjang.

            Aku semakin bimbang ketika para sahabat ku telah bersorak dengan kata lulus. Sementara aku belum menemui namaku tertera di mading itu. Rasa pupus sedikit memenuhi dada ku ini. Apa jadiya jika aku tidak lulus. Saat aku tengah mencari dari bawah ke atas, tiba-tiba saja mata ku tersorot tajam dan menyipit pada kertas yang di tempel pada pojok kiri atas.

            Betapa bodohnya aku pada saat itu ketika mencari data nama ku dari kelas bawah. Tersontak kaget aku ketika melihat secarik kertas itu. Namaku berada pada peringkat sembilan jika secara umum dan peringkat dua di kelas ku. Aku dinyatakan lulus pada ujian. Sangat bahagia aku pada hari itu. Akan tetapi rasa itu kembali pudar saat aku mengingat kembali bahwa aku akan pergi meninggalkan mereka. Setelah ini aku akan lanjut bersekolah di luar pulau. Aku akan mengikuti papa pindah tugas.

            Saat acara perpisahan sekolah ku yang di adakan di sebuah gedung berlangsung aku hanya bisa datang untuk menemani mama dan papa yang memberi bingkisan kepada kepala sekolah ku dan begitu juga dengan aku yang memberi kenang-kenangan kepada sahabat ku.

            “Bella kamu beneran lanjut SMA di luar? Nggak di sini?” tanya Mita.
            “Sebenarnya aku nggak mau, tapi apa boleh buat semuanya ikut pindah. Aku takut jika hanya hidup sendiri di sini”.
            “Memangnya Bella mau lanjut kemana?” tanya Kayla.
            “Bella ikut papa dan mama pindah ke Kalimantan. Katanya sih ke kota Pontianak. Papa Bella asalnya dari sana, makanya papa mau pindah dan benar-benar netap di sana” ujar ku jelas.

            Sedih rasanya aku meninggalkan mereka semua. Tapi aku coba menghapuskan kesedihan mereka dengan berkata bahwa kita masih bisa komunikasi dengan videocall. Mereka semua pun mengiyakan hal itu. Pelukkan terakhir ku bersama sahabatku itu.

            Setelah dari gedung itu, aku, papa dan mama segera menuju bandara untuk terbang dari Jakarta menuju Pontianak. Daerah yang sering di katakana oleh orang sebagai daerah yang cukup panas. Tapi justru itulah yang ku cari. Karena aku sedikit ingin memudarkan kulit ku yang berwarna kuning langsat yang pucat ini.

            Sesaat lagi penerbangan akan berlangsung. Mungkin dalam hitungan jam pesawat ini akan mendarat. Melirik ke luar jendela, tampak hamparan sawah yang indah dan susunan rumah penduduk yang tidak terlalu padat seperti di Jakarta.

            “Ma, ternyata tidak terlalu panas ya ma? Tidak seperti di Jakarta, terkadang dan penuh dengan polusi ma. Sepertinya Bella akan betah ma di sini. Tapi Bella maunya sekolah yang sesuai dengan nilai Bella dan sekolah yang mampu membuat Bella betah ya ma” pinta ku kepada mama.

            Liburan ku telah berakhir. Kini saatnya aku untuk mendaftar ke SMA-SMA yang telah di pilihkan oleh tante Gina. Tertera di kertas itu pilihan SMAnya yaitu SMA N3, SMA N1, SMA N8, SMA N7, dan SMA N4. Itu tandanya semua sekolah negeri ada di dalam pilihan ku. Mama pernah berpesan pada ku kalau aku harus memilih jurusan yang nantinya sesuai dengan impian ku. Tapi apa boleh di kata jika kurikulum baru hanya menyediakan dua jurusan saja (IPA dan IPS) tanpa ada jurusan sastranya.

            Sangat ramai yang mendaftar pada hari itu. Karena nilai ku yang cukup tinggi membuat ku dengan mudah masuk dan mendaftar di sekolah itu. Aku hanya duduk manis sambil menunggu tante Gina yang sibuk keluar masuk mengurusi berkas ku. Aku yang sedikit pembosan akhirnya memutuskan untuk berjalan berkeliling sekolah. Pada saat itu aku yang tengah berada di SMA N3 ingin tahu tentang sekolah ku nantinya. Berjalan menelusuri lorong demi lorong dan aku menemukan beberapa keunikkan. Sepanjang lorong tampak dua buah tong sampah di depan semua kelas dan tanaman air yang di gantung.sungguh sangat unik.

            Pendaftaran selesai begitu juga dengan daftar ulangnya. Tinggal akunya saja yang mengikuti MOS (Masa Orientasi Siswa). Kebetulan MOS ku pada saat itu bertepatan dengan bulan ramadhan. Kegiatan MOS ku hanya berlangsung selama tiga hari saja. Selama tiga hari itu aku aku tidak berbuka di rumah, akan tetapi aku berbuka di sekolah ku.

            MOS di SMA yang ku kira sama dengan MOS di SMP, ternyata jauh berbeda. Pada hari terakhir adalah hari yang sungguh sangat membuat aku dan siswa lainnya merasa terhenyak dengan kata dan pertanyaan yang di lontarkan dari para senior. Tapi tante Gina telah memberitahu ku bagaimana rupa MOS di SMA, jadi bagi ku ini hanya tradisi mereka saja. Nanti juga akan aku rasakan jadi mereka.

            Pada hari terakhir itu seluruh siswa di kelompokkan berdasarkan kelas masing-masing, dan aku masuk ke kelas sepuluh lima pada saat itu. Saat duduk sesuai kelas, aku mulai duduk pada banjar pertama dan baris ke enam dari depan. Para senior memberi aku dan seluruh siswa masing-masing kelas waktu berkenalan selama lima menit. Hal yang gila bagi aku dan teman-teman kelas ku. Bukan hanya satu dua orang tapi banyak sekali orang di ruangan itu. Tapi untungnya saja aku mampu mengetahui nama satu persatu teman wanita ku.

            Seusai MOS seluruh siswa di wajibkan masuk dan mengikuti upacara pada keesokkan harinya. Tak lupa sebelum pulang aku dan teman baru ku saling bertukar nomor, hanya agar lebih mudah menyampaikan informasi.

            Keesokkan harinya tepat pada hari Senin seluruh siswa siswi SMA N3 mengikuti upacara bendera. Kebetulan petugas pada hari itu adalah para anggota Paskibra. Terkagum-kagum aku memandang barisan dan kekompakkan mereka. Sudah ku tentukan aku akan mengikuti ekstrakulikuler apa nantinya, dan aku akan memilih Paskibra.

            Waktu belajar belum efektif selama satu minggu aku masuk. Selama satu minggu itu setiap guru yang masuk selalu menyuruh melakukan perkenalan diri. Bagi ku itu adalah solusi agar semua penghuni kelas sepuluh lima mampu saling mengenal satu sama lain.

            Hampir saja lupa aku menceritakan tentang keadaa kelas ku. Kelas yang ku tempati adalah ruang seni. Dimana kelas sepuluh lima adalah satu-satunya kelas mempunyai karpet di dalamnya, mempunyai lemari yang sangat banyak isinya, mempunyai panggung tersendiri di dekat pintu masuk, dan sebuah ruang band yang memiliki peredam suara. Sungguh ruang kelas yang lengkap dan lucu. Bagaimana tidak lucu jika meja yang dimiliki adalah sebuah meja panjang bak meja di laboratorium. Dimana setiap satu meja terdiri dari lima orang.  Meja ku terdiri dari lima bidadari, dan salah satunya adalah aku, dan yang lainnya adalah Rizqa, Via, Opi, dan Eka. Teman-teman baru yang menbuat ku merasa nyaman.

            Detik, menit, jam, bahkan hari yang aku lalui membuat ku semakin akrab dengan teman baru ku itu. Walaupun aku sudah mempunyai teman baru dan lingkungan baru, tapi jujur aku masih saja teringat dan merindukan sahabat-sahabat ku di Jakarta. Mungkin minggu depan aku akan menghubungi mereka semua dengan videocall.


            Enam bulan aku menunggu seragam baru ku jadi. Pakaian pertama yang dibagikan adalah pakaian olahraga, yang kedua adalah pakaian pramuka, pakaian yang ketiga adalah pakaian putih abu-abu (pakaian yang selama ini aku nantikan), dan terakhir adalah pakaian khasnya atau bisa dibilang baju batiknya. Ternyata tante Gina tidak salah memilihkan ku sekolah. Sangat layak dan sesuai apa yang aku mau. Siapa yang tidak betah dengan keteduhan dan kedamaiannya. Secara sehat kami semua bersaing di sini. Ya, begitulah hal yang terjadi pada ku setahun yang lalu.

0 komentar: