Dunia Baru
Hari ini hari yang ku
namai dengan sebutan perang dunia ke tiga. Cuaca yang dingin membangunkan ku
dengan caranya yang sedikit demi sedikit menyelimuti tubuh ku dengan hawa
dinginya. Akan tetapi rasa dingin itu sesegera mungkin memudar saat aku kembali
teringat akan apa yang akan ku hadapi pada hari ini. Perang dunia ke tiga
antara aku dan naskah soal, karena hari ini adalah hari dimana aku akan
berjuang untuk kelulusan ku.
Tangan
yang lembut ini dengan perlahan membuka sesuatu yang membalut tubuh ku dari
hawa dingin. Kaki indah dengan warna kuning langsat yang pucat kini tengah
menjuntai di atas ubin berwarna putih. Kaget ku ketika menyentuh ubin kamar ku.
Hawa dinginnya seakan menyelimuti ku kembali. Ku gapai saja alas kaki ku untuk
melindunginya. Dengan gesit aku membuka kain yang berjuntai di muka gerbang
udara, di iringi pula dengan aku yang membuka pintu kayu yang kecil. Mungkin
cara ini adalah cara yang sangat ajaib. Seketika mampu memudarkan hawa dingin
yang sedari tadi membungkus erat tubuh ku ini.
Tentu
pagi yang sangat indah bagi ku. Bagaimana tidak? Hari ini adalah hari yang
telah ku tunggu-tunggu dalam jangka waktu yang cukup bagi ku. Setelah ujian ini
aku hanya tinggal menunggu hasilnya saja. Kalau nanti aku dinyatakan lulus, itu
artinya aku akan segera menjemput seragam putih abu-abu ku.
Jarum
jam tangan ku kini telah menunjukkan pukul 06:15. Bergegas aku keluar dari
daerah perlindungan ku dengan perlengkapan yang berbeda dari biasanya. Menuruni
tangga dengan gerak yang lincah.
“Gimana?
Udah siap kak buat ujiannya hari ini?” tanya mama padaku. Karena aku anak
pertama terkadang mama dan papa memanggil ku dengan sebutan kakak.
“Sudah
kok ma. Tapi geregetan rasanya, takut aja soalnya beda ma” jawab ku lirih.
“Lho,
kenapa jadi minder gitu? Bukannya kamu sudah mempersiapkannya selama dua tahun
enam bulan lebihkan?” ujar mama yang sambil memberi ku sarapan di pagi itu..
“Iya
sih ma, tapi Bella takut ma kalau gagal”.
“Kamu
ini gimana sih, senjata yang kamu rakit bertahun-tahun mana? Kenapa belum
perang saja kamu sudah menyerah. Kalau semua tentara perang seperti kamu rugi
mereka” ujar mama bijak.
“Hmmmm,
iya deh ma Bella akan terus optimis dan berusaha kok buat hari ini dan tiga
hari kedepannya” sahut ku dengan menyantap roti bikinan mama.
Pagi
itu mama mengantar yang mengantar ku karena papa sedang piket di kantornya.
Tanpa banyak berbicara pada mama saat dalam perjalanan, dan mama pun tahu aku
diam karena aku sedang sibuk membaca
buku dan materi-materi ujian yang di berikan guru ku.
Sesampainya
aku di depan gerbang sekolah ku, aku pun turun dan menyalami mama dan meminta
restu serta doa agar aku dapat dengan lancar menjawab lembar soal ku nanti.
Begitulah yang ku lakukan selama empat hari aku menjalani ujian nasional ku.
“teeeeeeeeeeeeeeeeeeeeetttt”.
Terdengar
jelas suara bel pulang pada hari terakhir berbunyi keras. Dengan menarik nafas
yang panjang dan menghembuskannya sangat lega terasa, semua beban berat ku
selama ini tersingkirkan semua. Tiba-tiba saja terdengar suara sebuah pengeras
suara yang memberitahukan bahwa semua siswa dan siswi diharapkan datang kembali
ke sekolah setelah satu bulan dari sekarang.
Hari-hari
kosong yang panjang ku isi dengan kegiatan yang positif. Hobi ku yang menulis
membuat rasa jenuh ku hilang. Pada hari terakhir sebelum hari yang di tentukan
aku selalu saja berdoa agar apa yang aku kerjakan tidak berakhir sia-sia.
Tepat
tanggal satu pada bulan Juni aku kembali ke sekolah ku itu beserta dengan para
sahabat ku. Telah dikatakan pada hari terakhir ujian bahwa hasil kelulusan akan
tertempel di mading utama yang terletak di samping ruang guru. Mengingat itu
semua, aku dan sahabat ku berlari dengan hati yang berdebar sedari tadi.
Sesampainya aku pada mading itu, dengan sorot mata yang tajam ku pandangi
secarik kertas yang di tempel panjang.
Aku
semakin bimbang ketika para sahabat ku telah bersorak dengan kata lulus.
Sementara aku belum menemui namaku tertera di mading itu. Rasa pupus sedikit
memenuhi dada ku ini. Apa jadiya jika aku tidak lulus. Saat aku tengah mencari
dari bawah ke atas, tiba-tiba saja mata ku tersorot tajam dan menyipit pada
kertas yang di tempel pada pojok kiri atas.
Betapa
bodohnya aku pada saat itu ketika mencari data nama ku dari kelas bawah.
Tersontak kaget aku ketika melihat secarik kertas itu. Namaku berada pada
peringkat sembilan jika secara umum dan peringkat dua di kelas ku. Aku
dinyatakan lulus pada ujian. Sangat bahagia aku pada hari itu. Akan tetapi rasa
itu kembali pudar saat aku mengingat kembali bahwa aku akan pergi meninggalkan
mereka. Setelah ini aku akan lanjut bersekolah di luar pulau. Aku akan
mengikuti papa pindah tugas.
Saat
acara perpisahan sekolah ku yang di adakan di sebuah gedung berlangsung aku
hanya bisa datang untuk menemani mama dan papa yang memberi bingkisan kepada
kepala sekolah ku dan begitu juga dengan aku yang memberi kenang-kenangan
kepada sahabat ku.
“Bella
kamu beneran lanjut SMA di luar? Nggak di sini?” tanya Mita.
“Sebenarnya
aku nggak mau, tapi apa boleh buat semuanya ikut pindah. Aku takut jika hanya
hidup sendiri di sini”.
“Memangnya
Bella mau lanjut kemana?” tanya Kayla.
“Bella
ikut papa dan mama pindah ke Kalimantan. Katanya sih ke kota Pontianak. Papa
Bella asalnya dari sana, makanya papa mau pindah dan benar-benar netap di sana”
ujar ku jelas.
Sedih
rasanya aku meninggalkan mereka semua. Tapi aku coba menghapuskan kesedihan
mereka dengan berkata bahwa kita masih bisa komunikasi dengan videocall. Mereka semua pun mengiyakan
hal itu. Pelukkan terakhir ku bersama sahabatku itu.
Setelah
dari gedung itu, aku, papa dan mama segera menuju bandara untuk terbang dari
Jakarta menuju Pontianak. Daerah yang sering di katakana oleh orang sebagai
daerah yang cukup panas. Tapi justru itulah yang ku cari. Karena aku sedikit
ingin memudarkan kulit ku yang berwarna kuning langsat yang pucat ini.
Sesaat
lagi penerbangan akan berlangsung. Mungkin dalam hitungan jam pesawat ini akan
mendarat. Melirik ke luar jendela, tampak hamparan sawah yang indah dan susunan
rumah penduduk yang tidak terlalu padat seperti di Jakarta.
“Ma,
ternyata tidak terlalu panas ya ma? Tidak seperti di Jakarta, terkadang dan
penuh dengan polusi ma. Sepertinya Bella akan betah ma di sini. Tapi Bella
maunya sekolah yang sesuai dengan nilai Bella dan sekolah yang mampu membuat
Bella betah ya ma” pinta ku kepada mama.
Liburan
ku telah berakhir. Kini saatnya aku untuk mendaftar ke SMA-SMA yang telah di
pilihkan oleh tante Gina. Tertera di kertas itu pilihan SMAnya yaitu SMA N3,
SMA N1, SMA N8, SMA N7, dan SMA N4. Itu tandanya semua sekolah negeri ada di
dalam pilihan ku. Mama pernah berpesan pada ku kalau aku harus memilih jurusan
yang nantinya sesuai dengan impian ku. Tapi apa boleh di kata jika kurikulum
baru hanya menyediakan dua jurusan saja (IPA dan IPS) tanpa ada jurusan
sastranya.
Sangat
ramai yang mendaftar pada hari itu. Karena nilai ku yang cukup tinggi membuat
ku dengan mudah masuk dan mendaftar di sekolah itu. Aku hanya duduk manis
sambil menunggu tante Gina yang sibuk keluar masuk mengurusi berkas ku. Aku
yang sedikit pembosan akhirnya memutuskan untuk berjalan berkeliling sekolah.
Pada saat itu aku yang tengah berada di SMA N3 ingin tahu tentang sekolah ku
nantinya. Berjalan menelusuri lorong demi lorong dan aku menemukan beberapa
keunikkan. Sepanjang lorong tampak dua buah tong sampah di depan semua kelas
dan tanaman air yang di gantung.sungguh sangat unik.
Pendaftaran
selesai begitu juga dengan daftar ulangnya. Tinggal akunya saja yang mengikuti
MOS (Masa Orientasi Siswa). Kebetulan MOS ku pada saat itu bertepatan dengan
bulan ramadhan. Kegiatan MOS ku hanya berlangsung selama tiga hari saja. Selama
tiga hari itu aku aku tidak berbuka di rumah, akan tetapi aku berbuka di
sekolah ku.
MOS
di SMA yang ku kira sama dengan MOS di SMP, ternyata jauh berbeda. Pada hari
terakhir adalah hari yang sungguh sangat membuat aku dan siswa lainnya merasa
terhenyak dengan kata dan pertanyaan yang di lontarkan dari para senior. Tapi
tante Gina telah memberitahu ku bagaimana rupa MOS di SMA, jadi bagi ku ini
hanya tradisi mereka saja. Nanti juga akan aku rasakan jadi mereka.
Pada
hari terakhir itu seluruh siswa di kelompokkan berdasarkan kelas masing-masing,
dan aku masuk ke kelas sepuluh lima pada saat itu. Saat duduk sesuai kelas, aku
mulai duduk pada banjar pertama dan baris ke enam dari depan. Para senior
memberi aku dan seluruh siswa masing-masing kelas waktu berkenalan selama lima
menit. Hal yang gila bagi aku dan teman-teman kelas ku. Bukan hanya satu dua
orang tapi banyak sekali orang di ruangan itu. Tapi untungnya saja aku mampu
mengetahui nama satu persatu teman wanita ku.
Seusai
MOS seluruh siswa di wajibkan masuk dan mengikuti upacara pada keesokkan
harinya. Tak lupa sebelum pulang aku dan teman baru ku saling bertukar nomor,
hanya agar lebih mudah menyampaikan informasi.
Keesokkan
harinya tepat pada hari Senin seluruh siswa siswi SMA N3 mengikuti upacara
bendera. Kebetulan petugas pada hari itu adalah para anggota Paskibra.
Terkagum-kagum aku memandang barisan dan kekompakkan mereka. Sudah ku tentukan
aku akan mengikuti ekstrakulikuler apa nantinya, dan aku akan memilih Paskibra.
Waktu
belajar belum efektif selama satu minggu aku masuk. Selama satu minggu itu
setiap guru yang masuk selalu menyuruh melakukan perkenalan diri. Bagi ku itu
adalah solusi agar semua penghuni kelas sepuluh lima mampu saling mengenal satu
sama lain.
Hampir
saja lupa aku menceritakan tentang keadaa kelas ku. Kelas yang ku tempati
adalah ruang seni. Dimana kelas sepuluh lima adalah satu-satunya kelas
mempunyai karpet di dalamnya, mempunyai lemari yang sangat banyak isinya,
mempunyai panggung tersendiri di dekat pintu masuk, dan sebuah ruang band yang
memiliki peredam suara. Sungguh ruang kelas yang lengkap dan lucu. Bagaimana
tidak lucu jika meja yang dimiliki adalah sebuah meja panjang bak meja di
laboratorium. Dimana setiap satu meja terdiri dari lima orang. Meja ku terdiri dari lima bidadari, dan salah
satunya adalah aku, dan yang lainnya adalah Rizqa, Via, Opi, dan Eka.
Teman-teman baru yang menbuat ku merasa nyaman.
Detik,
menit, jam, bahkan hari yang aku lalui membuat ku semakin akrab dengan teman
baru ku itu. Walaupun aku sudah mempunyai teman baru dan lingkungan baru, tapi
jujur aku masih saja teringat dan merindukan sahabat-sahabat ku di Jakarta.
Mungkin minggu depan aku akan menghubungi mereka semua dengan videocall.
Enam
bulan aku menunggu seragam baru ku jadi. Pakaian pertama yang dibagikan adalah
pakaian olahraga, yang kedua adalah pakaian pramuka, pakaian yang ketiga adalah
pakaian putih abu-abu (pakaian yang selama ini aku nantikan), dan terakhir
adalah pakaian khasnya atau bisa dibilang baju batiknya. Ternyata tante Gina
tidak salah memilihkan ku sekolah. Sangat layak dan sesuai apa yang aku mau.
Siapa yang tidak betah dengan keteduhan dan kedamaiannya. Secara sehat kami
semua bersaing di sini. Ya, begitulah hal yang terjadi pada ku setahun yang
lalu.

0 komentar: